MALANG (25/3) – Memasuki tahun 2026, arah dunia usaha global tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan angka, melainkan ketahanan melalui keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) melalui FUSION 2026 (FIA SDG Summer Camp) membedah strategi bagaimana perusahaan modern bertransformasi dari model bisnis konvensional menuju ekonomi sirkular yang lebih efisien dan berdampak.

Rangkaian kegiatan bertajuk “Innovation and Impact” ini menghadirkan praktisi internasional untuk memberikan peta jalan bagi mahasiswa dan pelaku usaha dalam mengimplementasikan poin-poin SDGs secara praktis.
Efisiensi Energi: Bukan Beban, Melainkan Keunggulan Kompetitif
Pertanyaan mengenai “cara menekan biaya operasional perusahaan” sering kali berujung pada efisiensi energi. Dalam sesi pertama (25/3), Durrotul Ain, SP., MP., MBA., Manager di Philip Morris Manufacturing and Technology Bologna, Italia, mengungkapkan bahwa efisiensi energi adalah investasi strategis untuk meningkatkan reputasi bisnis sekaligus kepatuhan regulasi.
“Keberlanjutan adalah kebutuhan strategis perusahaan. Hal ini bukan sekadar kewajiban, tetapi investasi jangka panjang yang memberikan nilai tambah nyata,” jelas Durrotul.
Melalui pendekatan rantai nilai (end-to-end), FIA UB menekankan bahwa penggunaan energi terbarukan dan optimalisasi teknologi bukan hanya mendukung SDG 7 (Energi Bersih), tetapi juga secara langsung memperkuat struktur finansial perusahaan melalui penghematan distribusi.
Ekonomi Sirkular: Strategi 9R sebagai Jawaban Krisis Sumber Daya
Tren bisnis 2026 menunjukkan pergeseran besar menuju ekonomi sirkular. Banyak audiens mencari tahu bagaimana prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) berkembang menjadi 9R. FIA UB menyoroti bahwa inovasi berbasis ekonomi sirkular mampu menciptakan peluang bisnis baru di tengah krisis sumber daya global.
Materi ini menekankan bahwa inovasi tidak boleh hanya berorientasi pada profit, tetapi harus terintegrasi dengan dampak sosial dan lingkungan. Langkah ini menjadi kontribusi nyata UB terhadap SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Membangun ‘Entrepreneurship Mindset’ di Era Digital
Selain aspek teknis industri, tren pencarian di Google juga didominasi oleh topik kesiapan karier dan cara menghindari burnout. Menjawab hal ini, FUSION 2026 membekali peserta dengan pola pikir kewirausahaan yang adaptif.
Durrotul Ain merangkum tiga fondasi utama yang wajib dimiliki setiap individu di masa depan:
-
Ownership: Rasa kepemilikan dan tanggung jawab tinggi.
-
Experimental: Keberanian untuk mencoba hal baru.
-
Value Creation: Fokus pada penciptaan nilai dalam setiap tindakan.
“Entrepreneurship mindset adalah tentang bagaimana kita berpikir dan bertindak untuk menciptakan nilai di tengah dunia kerja yang dinamis,” tambahnya. Hal ini selaras dengan target SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak) dalam menciptakan lulusan yang siap kerja dan tangguh secara mental.
Komitmen Global Universitas Brawijaya
Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi global dalam FUSION 2026, FIA UB membuktikan bahwa branding universitas kini harus berbasis pada solusi nyata bagi isu-isu global.
Agung Nugroho Luthfi Imam Fahrudi, Ph.D., mewakili Departemen Administrasi Bisnis FIA UB, menutup dengan pesan kuat mengenai pentingnya dampak yang terukur. “Inovasi saja tidak cukup. Yang terpenting di tahun-tahun mendatang adalah bagaimana ide tersebut mampu menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya FUSION 2026, FIA UB semakin mengukuhkan perannya dalam mendukung pencapaian SDGs 1, 3, 4, 8, dan 17, sekaligus mencetak generasi muda yang siap memimpin tren bisnis hijau di masa depan.