Tren Bisnis 2026: Ekonomi Sirkular dan Efisiensi Energi Jadi Kunci Profitabilitas? Insight dari FUSION FIA UB

Share to:

MALANG (25/3) – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, efisiensi energi dan model ekonomi sirkular kini tidak lagi dipandang sebagai beban biaya, melainkan kunci utama profitabilitas perusahaan. Hal ini menjadi bahasan utama dalam gelaran FUSION 2026: FIA SDG Summer Camp yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) pada akhir Maret 2026.

Kegiatan kolaboratif ini mempertemukan mahasiswa nasional dan internasional dengan para praktisi global untuk membedah inovasi nyata yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).

Energi Sebagai Investasi, Bukan Beban

Membuka rangkaian hari pertama, Durrotul Ain, SP., MP., MBA. (Manager of Social Responsibility Reporting and Data Management Philip Morris Manufacturing & Technology, Italia), menegaskan bahwa efisiensi energi adalah strategi bertahan hidup bagi perusahaan modern.

“Efisiensi energi melalui pendekatan rantai nilai menyeluruh—mulai dari penggunaan energi terbarukan hingga optimalisasi teknologi produksi—adalah solusi nyata untuk memangkas biaya operasional sekaligus memperkuat reputasi bisnis di pasar global,” jelasnya.

Paparan ini selaras dengan SDG 7 (Energi Bersih) And SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Energi Sebagai Investasi, Bukan Beban

Membuka rangkaian hari pertama, Durrotul Ain, SP., MP., MBA. (Manager of Social Responsibility Reporting and Data Management Philip Morris Manufacturing & Technology, Italia), menegaskan bahwa efisiensi energi adalah strategi bertahan hidup bagi perusahaan modern.

“Efisiensi energi melalui pendekatan rantai nilai menyeluruh—mulai dari penggunaan energi terbarukan hingga optimalisasi teknologi produksi—adalah solusi nyata untuk memangkas biaya operasional sekaligus memperkuat reputasi bisnis di pasar global,” jelasnya. Paparan ini selaras dengan SDG 7 (Energi Bersih) And SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Mindset Wirausaha: Ownership dan Value Creation

Memasuki hari kedua, fokus beralih pada kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja digital. Peserta diajak menanamkan entrepreneurship mindset yang terdiri dari tiga pilar utama: Ownership, Experimental Mindset, And Value Creation. Strategi ini dianggap krusial untuk mencegah burnout dan memastikan lulusan universitas mampu menciptakan nilai tambah di mana pun mereka berkarya, mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) And SDG 8 (Pertumbuhan Ekonomi).

Transformasi Ekonomi Sirkular: Dari 3R Menuju 9R

Puncak kegiatan pada hari ketiga menyoroti transformasi model bisnis melalui Ekonomi Sirkular. Tidak lagi sekadar Reduce, Reuse, Recycle (3R), para peserta diperkenalkan pada konsep 9R (termasuk Rethink, Refurbish, hingga Remanufacture). Inovasi ini bertujuan untuk meminimalkan limbah sejak tahap desain produk, sehingga sumber daya dapat berputar lebih lama dalam ekosistem ekonomi.

Strategi sirkular ini merupakan solusi konkret bagi tantangan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), di mana profitabilitas perusahaan berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan.

Komitmen Akademik untuk Dampak Nyata

Presiden SDGs Center Indonesia, Bayu Arie Fianto, Ph.D., bersama pimpinan Departemen Administrasi Bisnis FIA UB, Agung Nugroho Luthfi Imam Fahrudi, Ph.D., menegaskan bahwa inovasi mahasiswa harus memiliki dampak yang terukur.

Melalui FUSION 2026, FIA UB membuktikan perannya sebagai jembatan yang menghubungkan teori akademik dengan praktik manajemen global. Dengan membekali mahasiswa melalui perspektif praktisi internasional, FIA UB menyiapkan pemimpin masa depan yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang solutif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada hasil nyata bagi masyarakat dan bumi.

Latest news

Other Articles

Get the latest information from the Faculty of Administrative Sciences, Brawijaya University