Penguatan Perspektif Pendidikan Inklusi di FIA UB

Share to:

MALANG (4/6) – Program Studi S-1 Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB), menyelenggarakan kegiatan kuliah tamu bertema “Tata Kelola Pendidikan Inklusi” pada Kamis (4/6/2026) di Aula Gedung C Lantai 3 FIA UB. Kegiatan ini menjadi ruang akademik bagi mahasiswa untuk memahami tantangan sekaligus strategi pengelolaan pendidikan inklusi di Indonesia secara langsung dari praktisi pendidikan.

Kuliah tamu dibuka oleh dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Inklusi, Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai implementasi pendidikan inklusi yang tidak hanya berfokus pada kebijakan, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, lingkungan sekolah, dan dukungan masyarakat.

kiri ke kanan : Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd dan Sawitri Mardhiyah, S.Pd.

Hadir sebagai narasumber, Sawitri Mardhiyah, S.Pd., Kepala Sekolah SDN Pamotan 1 Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang membagikan pengalaman praktik pengelolaan sekolah inklusi. Melalui pemaparannya, mahasiswa diajak memahami bahwa pendidikan inklusi membutuhkan tata kelola yang adaptif serta kolaboratif agar seluruh peserta didik dapat memperoleh hak pendidikan yang setara.

Tata Kelola Pendidikan Inklusi di Sekolah

Dalam sesi pemaparan, Sawitri menjelaskan bahwa pengelolaan pendidikan inklusi yang efektif berawal dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan setiap siswa. Ia menekankan bahwa realitas di lapangan menunjukkan masih banyak kondisi yang belum ideal ketika sekolah harus menerapkan sistem pendidikan inklusi.

“Pengelolaan pendidikan inklusi harus dimulai dari cara pandang terhadap Anak Berkebutuhan Khusus. Sekolah perlu menciptakan sistem dan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan ABK,” ungkap Sawitri.

Ia menjelaskan bahwa saat ini seluruh sekolah memiliki kewajiban menerima siswa tanpa memandang latar belakang maupun kondisi mereka. Namun, implementasi pendidikan inklusi di lapangan masih menghadapi kesenjangan antara regulasi dan pelaksanaan teknis. Dinas Pendidikan dinilai telah berfokus pada penyusunan regulasi, sementara sekolah masih membutuhkan panduan teknis yang lebih aplikatif.

Kondisi tersebut mendorong guru dan tenaga pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi secara mandiri, termasuk melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas dalam menangani pembelajaran inklusif.

Peran Guru dan Sekolah dalam Pendidikan Inklusi

Sawitri juga memaparkan peta tata kelola pendidikan inklusi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru kelas dan Guru Pendamping Khusus (GPK), orang tua, pakar atau psikolog, pemegang wilayah, hingga masyarakat.

Menurutnya, Dinas Pendidikan berperan sebagai pilar utama dalam tata kelola inklusi, sedangkan kepala sekolah menjadi pemimpin perubahan menuju sekolah yang inklusif. Di sisi lain, guru memegang peran penting sebagai ujung tombak implementasi pendidikan inklusi di ruang kelas.

Sawitri Mardhiyah, S.Pd.

Tetapi dalam praktiknya, Sawitri menjelaskan bahwa sekolah inklusi masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia, kompetensi guru yang belum merata, fasilitas pendukung yang kurang memadai, tingginya beban administrasi, hingga pola pikir masyarakat yang belum sepenuhnya inklusif.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, sekolah perlu melakukan berbagai langkah adaptif, seperti penyesuaian kurikulum, pengembangan teknologi pendukung pembelajaran inklusi, serta memperkuat kolaborasi dengan orang tua siswa.

“Keberhasilan pendidikan inklusi tidak hanya ditentukan oleh regulasi atau fasilitas, tetapi juga oleh empati, kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi yang dijalankan setiap hari,” jelasnya.

Kuliah tamu ditutup dengan sesi refleksi mahasiswa Administrasi Pendidikan FIA UB. Salah satu mahasiswa, Nabila Dita, mengungkapkan bahwa materi mengenai pendidikan inklusi memberikan kesadaran baru bagi mahasiswa yang nantinya akan berperan sebagai administrator pendidikan.

sesi pemaparan mahasiswa

Menurutnya, pendidikan inklusi perlu memperoleh perhatian lebih agar seluruh peserta didik dapat memperoleh akses pendidikan yang adil dan berkualitas.

Melalui kegiatan ini, FIA UB menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan pendidikan inklusif sekaligus mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua. Kuliah tamu ini diharapkan mampu membentuk calon administrator pendidikan yang memiliki kepedulian sosial, perspektif inklusif, serta kesiapan menghadapi tantangan tata kelola pendidikan di masa depan.

Latest news

Other Articles

Get the latest information from the Faculty of Administrative Sciences, Brawijaya University