Malang (16/4) – Di balik deretan prestasi akademik dan kesibukan birokrasi, ada momen-momen syahdu yang mengingatkan kita bahwa institusi pendidikan bukan sekadar tempat mengejar gelar, melainkan sebuah keluarga. Suasana haru sekaligus bahagia menyelimuti Aula Gedung A Lantai 4 FIA UB saat civitas akademika berkumpul untuk satu tujuan: melepas keberangkatan rekan-rekan mereka menuju Tanah Suci.
Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Tentang “Menitipkan Hati”
Melepas keberangkatan haji seringkali menjadi momen emosional bagi siapa pun. Saat tokoh-tokoh akademisi dari FIA UB bersiap melangkah menuju perjalanan spiritual terbesar dalam hidup mereka, ada pesan yang lebih dalam dari sekadar ucapan selamat jalan.

Dalam tausiyahnya, A. Farid Khamidi, LC., mengingatkan bahwa perjalanan haji bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah “reset” diri. Beliau membagikan standar emas yang menjadi ciri seseorang mendapatkan haji yang mabrur—sebuah nilai yang sejatinya bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan kerja:
-
Thiyabul Kalam (Menjaga Lisan): Haji yang mabrur tercermin dari caranya berbicara. Seseorang yang telah melalui proses spiritual ini lisannya akan menjadi lebih santun, tidak lagi gemar mencela, dan selalu mengedepankan kalimat yang menyejukkan. Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk lebih bijak dalam berkomunikasi.
-
Ith’amut Tha’am (Kepedulian Sosial): Haji bukan ritual pribadi. Ciri mabrurnya terlihat dari meningkatnya empati. Memberi makan dan berbagi bukan hanya soal harta, melainkan soal kepekaan terhadap kesusahan orang lain. Di FIA UB, nilai ini menjelma menjadi semangat kolaborasi dan keinginan untuk saling membantu antar sesama rekan kerja maupun mahasiswa.
-
Ifsyas-Salam (Menebar Kedamaian): Inilah ciri yang paling terasa. Menjaga sikap agar orang di sekitar merasa aman dan nyaman. Seseorang yang pulang dengan gelar haji mabrur akan membawa “suasana damai” ke mana pun ia pergi, meminimalisir konflik, dan menjadi penengah yang teduh.
Pesan dari Dekanat: Memenuhi Panggilan, Membawa Perubahan
Dekan FIA UB, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menekankan harapan besar agar para calon jamaah berangkat dengan niat yang lurus dan kembali dengan membawa perubahan positif.

Bagi FIA UB, melepas keberangkatan haji bukan sekadar seremonial formal. Ini adalah pernyataan sikap bahwa institusi ini adalah ekosistem yang mendukung pertumbuhan manusia secara utuh—baik secara intelektual, profesional, maupun spiritual.

Acara pelepasan tersebut pun ditutup dengan penyerahan cinderamata, sebuah simbol dukungan penuh dari keluarga besar fakultas. Sebuah pesan kuat bahwa ke mana pun para civitas ini melangkah, mereka tetap membawa doa dan kebanggaan dari “kampus biru.“