Rahasia Cuan Melimpah ala CEO Nichoa Chocolate di FUSION 2026 FIA UB: Bisnis Hijau Bukan Sekadar Tren!

Bagikan Ke:

Banyak pelaku usaha menganggap bahwa menerapkan prinsip ramah lingkungan berarti siap-siap rugi karena biaya operasional yang mahal. Namun, Andri Setyowati (CEO Nichoa Chocolate Indonesia) justru membongkar fakta sebaliknya di hadapan mahasiswa internasional dalam ajang FUSION 2026: FIA SDG Summer Camp yang digelar oleh International Relations Office (IRO) dan Departemen Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB), Rabu (31/3).

Menurutnya, kunci keuntungan yang berkelanjutan (sustainable profit) justru terletak pada seberapa jujur dan bertanggung jawab sebuah perusahaan dalam memproduksi barangnya.

Pangkas “Hidden Cost” dengan Produksi Bertanggung Jawab

Banyak UMKM tidak sadar bahwa limbah dan inefisiensi sumber daya adalah “biaya tersembunyi” yang menggerus keuntungan. Andri Setyowati menekankan bahwa solusi praktisnya bukan membeli mesin mahal, melainkan pada Audit Internal Operasional:

  • Efisiensi Bahan Baku: Memilih bahan baku yang memiliki jejak karbon rendah namun berkualitas tinggi. Di Nichoa Chocolate, ini berarti menjalin kemitraan langsung dengan petani lokal untuk memotong rantai pasok yang panjang dan mahal.

  • Zero Waste Management: Mengelola sisa produksi bukan sebagai sampah, melainkan sebagai produk sampingan (by-product) yang bisa diolah kembali atau dijual. Ini mengubah pos pengeluaran (biaya buang sampah) menjadi pos pemasukan baru.

  • Tanggung Jawab sebagai Positioning: Saat ini, konsumen bersedia membayar lebih mahal (premium price) untuk produk yang transparan. Inilah “rahasia cuan” sesungguhnya: menaikkan margin keuntungan lewat kepercayaan konsumen (brand trust).

Strategi “Sustainable Entrepreneurship” untuk Skalabilitas Bisnis

Masalah utama bisnis kecil adalah sulit naik kelas karena model bisnisnya kaku. Solusi yang ditawarkan adalah beralih ke paradigma Kewirausahaan Berkelanjutan. Strateginya mencakup:

  • Inovasi Berbasis Problem-Solving: Jangan hanya menciptakan produk, tapi ciptakan solusi bagi masalah sosial. Misalnya, memberdayakan masyarakat sekitar dalam proses produksi untuk menciptakan loyalitas tenaga kerja dan stabilitas ekosistem bisnis.

  • Nilai Ekonomi & Lingkungan yang Seimbang: Bisnis yang hanya mengejar angka finansial akan mudah goyah saat krisis. Namun, bisnis yang memiliki dampak lingkungan yang kuat biasanya lebih tangguh (resilient) dan lebih mudah mendapatkan akses pendanaan dari investor hijau atau hibah internasional.

Mencetak “Problem Solver” Masa Depan

Melalui bimbingan moderator Hanifa Maulani Ramadhan, MAB dan Zaki Alif Ramadhani, M.Par, kegiatan ini mempertegas posisi FIA UB sebagai garda terdepan dalam pencapaian SDGs 8 (Pertumbuhan Ekonomi) dan SDGs 12 (Produksi yang Bertanggung Jawab).

Mahasiswa diajak tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi global, tetapi menjadi agen perubahan yang mampu merancang model bisnis masa depan. FUSION 2026 membuktikan bahwa keberhasilan bisnis masa depan tidak lagi diukur dari seberapa besar tumpukan uang di bank, melainkan seberapa besar dampak positif yang ditinggalkan bagi masyarakat dan bumi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Dapatkan informasi terbaru dari Fakultas Ilmu Administrasi Univesitas Brawijaya