Malang, 22 Juni 2026 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menyelenggarakan Sosialisasi Workshop dan Pelatihan Sertifikasi Kompetensi BNSP sebagai upaya memperkuat daya saing lulusan di dunia kerja yang semakin kompetitif. Kegiatan ini diikuti mahasiswa Program Studi Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis dengan skema subsidi khusus dari fakultas.
Melalui program tersebut, FIA UB memberikan dukungan pembiayaan yang signifikan sehingga peserta hanya perlu membayar Rp250.000 dari biaya pelatihan dan sertifikasi yang sebelumnya mencapai lebih dari Rp1 juta. Kuota subsidi diberikan kepada 100 mahasiswa Administrasi Publik dan 100 mahasiswa Administrasi Bisnis yang mendaftar pertama.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan III FIA UB, Dr. Moh. Said, S.Sos., M.AP yang menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi merupakan investasi strategis untuk meningkatkan kualitas lulusan di luar komponen pembelajaran yang telah diperoleh melalui perkuliahan.
“FIA UB berkomitmen memberikan bekal tambahan bagi mahasiswa melalui subsidi sertifikasi kompetensi. Program ini tidak termasuk dalam komponen UKT, tetapi menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas lulusan agar lebih siap memasuki dunia kerja dan memiliki peluang memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari 12 bulan setelah lulus,” ujarnya.
Perkuat Daya Saing Lulusan Melalui Sertifikasi Kompetensi
Dalam sesi utama, Direktur Utama PT Indonesia Emas Empatlima sekaligus Asesor Kompetensi BNSP RI, Moch Agus Surosyid, M.T., NLSQ., C.IM, menjelaskan bahwa kebutuhan industri saat ini tidak hanya berfokus pada ijazah akademik, tetapi juga pada kompetensi yang dapat diukur dan dibuktikan secara profesional.
![IMG 9295[1]](https://fia.ub.ac.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG_92951-scaled.jpg)
Menurutnya, perusahaan membutuhkan sumber daya manusia yang siap kerja dengan kemampuan yang terstandarisasi. Sertifikasi kompetensi menjadi instrumen yang memudahkan industri dalam mengenali kemampuan kandidat secara objektif sehingga proses rekrutmen dapat berjalan lebih efektif.
“Lulusan perguruan tinggi saat ini dituntut tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang terukur. Sertifikasi kompetensi menjadi bukti kemampuan kerja yang memudahkan industri mengenali kapasitas seseorang,” jelasnya.
Pemahaman tersebut semakin relevan di tengah transisi dari Industri 4.0 menuju Industri 5.0 yang menekankan kolaborasi manusia dan teknologi, kreativitas, inovasi, human-centered technology, serta prinsip keberlanjutan. Perubahan ini mendorong lulusan perguruan tinggi untuk memiliki kombinasi kemampuan teknis, adaptabilitas, dan kompetensi profesional yang terdokumentasi secara formal.
Mempersiapkan Lulusan Adaptif dan Siap Kerja
Sosialisasi tidak hanya membahas pentingnya sertifikasi kompetensi, tetapi juga strategi membangun karier yang berkelanjutan sejak masa perkuliahan. Mahasiswa didorong untuk menguasai bidang keilmuan, aktif dalam organisasi dan proyek, mengikuti program magang, membangun portofolio, memperluas jejaring profesional, serta mengikuti pelatihan dan sertifikasi yang relevan.
Lebih jauh, sertifikasi kompetensi juga mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan pasar kerja. Penguasaan kompetensi yang terdokumentasi memberikan kejelasan bagi perusahaan dalam proses penempatan kerja sekaligus memperkuat kepercayaan diri lulusan saat memasuki dunia profesional.
Diskusi Karier dan Pengembangan Potensi Diri
Pada sesi diskusi, mahasiswa mengangkat berbagai isu terkait pengembangan karier, termasuk bagaimana menemukan passion dan jati diri dalam menentukan arah profesi di masa depan.
![IMG 9281[1]](https://fia.ub.ac.id/wp-content/uploads/2026/06/IMG_92811-scaled.jpg)
Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa pengenalan potensi diri idealnya dilakukan sejak usia dini melalui talent mapping. Namun bagi mahasiswa, eksplorasi minat dan pengembangan kompetensi tetap dapat dilakukan dengan berfokus pada bidang yang paling diminati agar proses pengembangan kemampuan menjadi lebih terarah.
Diskusi juga menyoroti perbandingan antara sertifikasi kompetensi BNSP dengan berbagai sertifikat pelatihan gratis yang tersedia secara global, seperti Meta Blueprint maupun Coursera. Narasumber menjelaskan bahwa sertifikasi BNSP memiliki nilai tambah karena terintegrasi dengan sistem sertifikasi kompetensi nasional yang diakui dan berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan.
“Kompetensi sangat penting untuk kebutuhan karier. Banyak orang pada akhirnya bekerja tidak sesuai profesinya karena kebutuhan industri yang terus berubah. Sertifikat kompetensi dapat menjadi dasar yang menunjukkan kemampuan yang dimiliki, sementara kemampuan beradaptasi tetap menjadi kunci menghadapi dinamika dunia kerja,” ungkapnya.
Pendampingan Intensif Menuju Sertifikasi BNSP
Untuk memastikan kesiapan peserta, FIA UB bersama tim instruktur telah menyiapkan pendampingan intensif sebelum proses asesmen kompetensi dilaksanakan. Mahasiswa akan memperoleh pembekalan terkait kisi-kisi asesmen, tugas yang harus dipersiapkan, hingga simulasi praktik sesuai skema sertifikasi yang diikuti.
Rangkaian kegiatan dirancang secara bertahap melalui sesi pelatihan, praktik, pengumpulan tugas, hingga asesmen kompetensi. Peserta akan memperoleh sertifikat pelatihan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan melanjutkan proses sertifikasi untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dari BNSP.
Penguatan kompetensi melalui sertifikasi profesional sejalan dengan komitmen FIA UB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui pengembangan sumber daya manusia yang kompeten, produktif, dan berdaya saing. Langkah ini memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap transformasi industri sekaligus mampu berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.