SEC FIA UB Bedah Strategi Bangun Fondasi Bisnis

Share to:

MALANG (13/5) — Organisasi kemahasiswaan Student Entrepreneur Center (SEC) sukses menyelenggarakan seminar kewirausahaan berskala akademik dengan tema besar “Entrepreneurial Frontier: Navigating the New Era of Business Identity”, acara yang berlangsung di Aula Gedung E Lantai 10 ini dipadati oleh ratusan mahasiswa yang antusias ingin menjadi pengusaha muda. Lewat ruang diskusi ini, para peserta diajak untuk membedah bagaimana cara memperkuat fondasi bisnis, membangun identitas brand yang adaptif, serta menjaga operasional usaha agar tetap kokoh di tengah persaingan pasar modern yang dinamis.

pemaparan materi oleh Ariz Wahyu Sampurna, Executive Director Livoc

Sesi pertama dibuka dengan cerita inspiratif dari Ariz Wahyu Sampurna, Executive Director Livoc yang juga merupakan alumni Manajemen FEB UB. Berbagi pengalaman nyata, Ariz menceritakan bagaimana ia merintis Livoc sejak duduk di bangku kuliah semester enam. Keterbatasan modal awal seperti mahalnya harga mesin cetak ternyata bukan halangan, sebab ia berhasil mengatasinya dengan strategi kerja sama dengan percetakan skala besar. Pengalaman mengelola dua lini usaha sekaligus, termasuk menjadi Head of Marketing and Sales di Cubic Society, mengajarkannya banyak hal tentang susahnya mencari omzet dan mengelola risiko finansial. Bagi Ariz, seni paling menarik dari bikin bisnis adalah bagaimana cara kita pintar meracik setiap tantangan operasional menjadi satu kesatuan strategi yang utuh.
​Dalam materinya, Ariz menekankan pentingnya bagi pengusaha muda untuk kembali ke fundamental bisnis melalui tiga pilar utama: Brand Value and Vision, Research and Cashflow, as well as Operational and Marketing System. Menurutnya, fondasi awal yang kuat adalah kunci agar bisnis tidak mudah goyang saat menghadapi perang harga (predatory pricing) dari kompetitor. Livoc sendiri membuktikannya lewat perjalanan nyata; berawal dari fokus pada produk lanyard di tahun 2023, hingga akhirnya sukses memperbanyak variasi produk seperti garmen dan akrilik pada tahun 2025. Ariz juga membocorkan cara riset pasar ala Livoc yang simpel tapi efektif, yaitu dengan keliling ke tiap fakultas untuk mewawancarai sampel orang secara acak demi memvalidasi tren yang sedang berkembang di kalangan mahasiswa.

“Virality itu tidak sama dengan trend. Keberhasilan bisnis jangka panjang ditentukan oleh ketajaman fundamental, bukan sekadar popularitas sesaat yang viral. Kita boleh memanfaatkan viralitas, namun pemetaan tren yang linear dengan permintaan konsumen riil harus tetap bertumpu pada pilar finansial dan positioning yang kuat sejak awal,” jelas Ariz secara mendalam.

pemaparan materi oleh pemaparan dari Hertasnim Syahid, owner Toko Kopi Jaya

Memasuki sesi kedua, suasana talkshow semakin hangat dengan pemaparan dari Hertasnim Syahid, owner Toko Kopi Jaya. Hertasnim membedah strategi membangun bisnis yang bisa bertahan lama (sustainable) di tengah perubahan era. Ia mengingatkan bahwa langkah pertama yang paling penting adalah mulai dari diri sendiri (start from yourself), yaitu memahami kemampuan, minat, dan potensi pribadi sebelum menentukan jenis usaha. Selain itu, pemetaan bisnis (business mapping) lewat identifikasi pasar dan masalah riil di lapangan juga wajib dilakukan agar produk yang lahir bisa menjadi solusi nyata bagi konsumen.

Hertasnim juga membagikan filosofi perkembangan bisnis lewat idiom Jepang yang menggambarkan perjalanan sepuluh tahun pertama usaha, yang mencakup: momentum, adaptasi, konsistensi, dan eksistensi. Ia menekankan bahwa tahun pertama adalah fase krusial untuk membangun identitas brand agar menjadi pilihan utama (top of mind) di masyarakat, bukan waktunya untuk sekadar “bakar uang” demi promosi besar-besaran. Melalui strategi pembeda ala The Purple Cow, bisnis harus mampu menciptakan keunikan tersendiri dan membangun basis konsumen organik yang setia, bukan konsumen yang datang karena ikut-ikutan tren (FOMO) saja.

Menutup materinya, Hertasnim berpesan agar target omzet dikejar secara realistis dan kemampuan mengatasi masalah (troubleshooting) terus diasah, karena pada dasarnya kualitas produk yang baik akan menjadi marketing terbaik bagi bisnis itu sendiri.

“Kualitas bukan soal mampu melakukan banyak hal, tetapi mampu menahan diri atas banyak hal yang bisa dilakukan. Fokus dan pengendalian diri adalah instrumen utama dalam mengonstruksi identitas bisnis yang kokoh, selektif, dan berkelanjutan di era modern,” tegas Hertasnim saat menutup sesi materi keduanya.

Sebagai kesimpulan dari seluruh rangkaian acara, para peserta diajak untuk tidak hanya mengejar viralitas instan, melainkan fokus mematangkan fundamental usaha, peka melihat tren pasar, serta terus melakukan riset berkala. Sesi talkshow interaktif ini diakhiri dengan sebuah kutipan pemantik semangat dari Mark Cuban yang disitir oleh Ariz: “Don’t start a company unless it’s an obsession and something you love.”

Melalui edukasi yang dikemas secara menarik ini, Student Entrepreneur Center FIA UB tidak hanya berhasil men3yebarkan virus kewirausahaan di kalangan kampus, tetapi juga ikut berkontribusi nyata dalam mendukung Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Poin 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Poin 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur untuk masa depan ekonomi Indonesia yang lebih inklusif.

Latest news

Other Articles

Get the latest information from the Faculty of Administrative Sciences, Brawijaya University