Inovasi Karir Administrasi Pendidikan FIA UB Hadapi Era Digital

Bagikan Ke:

MALANG (19/5) – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terbaik di Indonesia dalam mencetak lulusan yang siap kerja dan adaptif. Melalui Program Studi Administrasi Pendidikan, FIA UB sukses menggelar seminar karir kolaboratif bersama SMEA x Eduday bertajuk “Exploring Career Paths for Educational Administration Students.” Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (19/5/2026) di Aula Gedung C Lantai 3 FIA UB ini dihadiri ratusan mahasiswa yang siap mengeksplorasi peluang karir masa depan di era disrupsi teknologi.

Peta Karir Luas dan Kompetensi Global Lulusan FIA UB

Gagasan penting pertama dalam seminar ini menyoroti pergeseran paradigma serapan kerja yang menuntut lulusan untuk berpikir lebih dinamis. Dwi Eristi, S.A.P., M.M. membuka cakrawala audiens dengan memaparkan dinamika serapan tenaga kerja kontemporer. Menurutnya, lulusan Administrasi Pendidikan tidak perlu merasa cemas dengan ketatnya persaingan industri saat ini, asalkan mereka memiliki ketangkasan kompetensi yang luas.

“Secara realitas, saat ini ada sekitar 60% lulusan yang bekerja di luar bidang studinya. Oleh karena itu, penilaian di dunia kerja sekarang tidak lagi fokus pada IPK semata, melainkan pada kemampuan adaptabilitas dan komunikasi,” ungkap Dwi Eristi.

kiri ke kanan : host, pemateri : Dwi Eristi, S.A.P., M.M

Kombinasi kompetensi keilmuan yang diajarkan di FIA UB seperti kebijakan regulasi, manajemen strategis, akreditasi, hingga pengelolaan SDM—menjadi modal universal yang membuka peluang karir sangat luas bagi alumni melintasi batas birokrasi kaku. Lulusan memiliki fleksibilitas tinggi untuk mengisi posisi strategis di berbagai sektor, mulai dari birokrasi pemerintahan, organisasi sosial (NGO), korporasi swasta, industri teknologi pendidikan (EduTech), hingga sektor wirausaha mandiri.

“Jangan takut, karena sekarang pasar ASEAN terbuka lebar untuk berkompetisi, dan lulusan kita punya modal yang sangat kuat untuk itu,” tambah Dwi optimis.

Dekonstruksi Peran: Dari Pekerja Klerikal Menjadi Konsultan Solutif

Melanjutkan pemikiran tentang perluasan karir, gagasan berikutnya berfokus pada pentingnya mendekonstruksi pemahaman lama mengenai esensi ilmu administrasi. Sebagai institusi yang menjadi kiblat ilmu administrasi, FIA UB terus mendorong mahasiswanya untuk mengambil peran-peran strategis yang berdampak makro. Athrusy Robiul Hakim, S.Pd., M.M. menantang para mahasiswa untuk menaikkan level kontribusi mereka di masyarakat dengan tidak terjebak pada stigma profesi yang sempit.

“Kita harus membuka stigma bersama bahwa administrasi pendidikan itu bukan hanya urusan mengurus berkas atau dokumen fisik,” tegas Athrusy.

Athrusy Robiul Hakim, S.Pd., M.M

Berkaca dari rekam jejaknya di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Maluku Utara, beliau mengenalkan tiga rumpun karir prestisius yang jarang dilirik namun sangat krusial, yaitu Konsultan Pendidikan, Training & Bootcamp Leader, dan Peneliti Kualitatif. Sektor-sektor strategis ini membuktikan bahwa penyelesaian masalah pendidikan di lapangan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan menuntut penguasaan keterampilan riset yang mendalam serta tata kelola pelatihan yang matang.

Agensi Mahasiswa sebagai Katalisator Inovasi Pendidikan

Wawasan dalam seminar ini semakin kaya dengan masuknya perspektif internasional yang membahas korelasi antara kebijakan makro dan peran aktif mahasiswa di kampus. Dihadirkan secara daring via Zoom Meeting, Associate Professor Dr. Corrienna Abdul Talib membawa gagasan penting mengenai pentingnya membangun iklim akademik yang partisipatif untuk memicu lahirnya inovasi pendidikan (educational innovation).

Beliau menguraikan bahwa mahasiswa tidak boleh diposisikan sebagai penonton pasif dalam ekosistem kampus, melainkan harus diakui sebagai penggerak utama perubahan itu sendiri.

Students innovate when they feel empowered. Inovasi pendidikan baru akan menjadi bermakna ketika mahasiswa diberikan ruang dan kepercayaan untuk bertindak,” jelas Dr. Corrienna.

Sebagai pilar penutup dari rangkaian gagasan seminar, Bapak Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd. menjembatani seluruh konsep teoritis ke dalam implementasi praktis di dunia kerja nyata. Beliau menekankan bahwa digitalisasi di bidang administrasi harus selalu memiliki landasan kemanusiaan agar teknologi yang diadopsi tepat guna, sebab secanggih apa pun sebuah sistem baru tidak akan efektif jika tidak berangkat dari pemahaman mendalam terhadap masalah pengguna di lapangan.

“Inovasi itu datangnya dari empati. Kunci utama dalam berinovasi adalah bagaimana sebuah masalah di lapangan dapat diselesaikan dengan cepat, efisien, tepat sasaran, dan efektif,” terang Bapak Aulia Luqman Aziz.

Beliau mencontohkan langkah taktis dari salah satu rekannya yang berhasil menciptakan solusi menggunakan Microsoft Access. Inovasi tersebut mampu mentransformasi sistem surat-menyurat konvensional menjadi manajemen pengarsipan digital yang terintegrasi dan memiliki sistem pelacakan (tracking). Penguasaan efisiensi teknologi berbasis empati seperti ini menjadi kunci bagi lulusan FIA UB untuk menciptakan tata kelola lembaga yang modern.

Aulia Luqman Aziz, S.S., S.Pd., M.Pd.

Melalui seluruh rangkaian pemikiran yang disampaikan oleh para narasumber, seminar kolaboratif ini berhasil merumuskan kesimpulan besar bahwa masa depan dunia pendidikan sangat bergantung pada lahirnya para administrator yang adaptif, melek digital, dan berjiwa solutif. Kesadaran untuk menguasai kompetensi abad ke-21 ini menjadi modal utama mahasiswa untuk siap menghadapi transisi dunia kerja.

Langkah strategis FIA UB dalam memfasilitasi jembatan keilmuan ini sejalan dengan komitmen institusi dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada target SDGs Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan ekosistem belajar yang inovatif, serta SDGs Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mencetak generasi muda yang kompetitif, beretika, dan siap memimpin transformasi di sektor tata kelola pendidikan digital nasional maupun global.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Dapatkan informasi terbaru dari Fakultas Ilmu Administrasi Univesitas Brawijaya