FIA UB Perkuat Implementasi OBE melalui Sosialisasi CBL dan PjBL

Bagikan Ke:

MALANG, 27 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) terus memperkuat transformasi pembelajaran berbasis Outcome Based Education (OBE) melalui Sosialisasi Penggunaan Metode Case-Based Learning (CBL) dan Project-Based Learning (PjBL) sebagai Implementasi Peraturan Rektor Nomor 36 Tahun 2023 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Outcome Based Education. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 4 Gedung A FIA UB ini diikuti oleh pimpinan fakultas, ketua departemen, ketua program studi, serta dosen sebagai bagian dari penguatan kualitas pembelajaran di lingkungan FIA UB.

Sosialisasi menghadirkan Cacik Rut Damayanti, S.Sos., M.Prof.Acc., DBA., Prof. Dr. Widya Yani, M.Si., dan Dr. Yuyun Ismawati, S.Sos., MAB. sebagai narasumber yang membahas implementasi kurikulum Outcome Based Education, strategi penerapan Case-Based Learning dan Project-Based Learning, hingga penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang selaras dengan capaian pembelajaran lulusan (CPL) dan capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK).

Pembelajaran Berbasis Outcome Menjadi Standar Pendidikan Tinggi Modern

Peraturan Rektor Universitas Brawijaya Nomor 36 Tahun 2023 menempatkan Outcome Based Education sebagai kerangka utama penyusunan kurikulum yang berorientasi pada kompetensi lulusan. Dalam implementasinya, proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada penyampaian materi oleh dosen, melainkan diarahkan pada pencapaian kemampuan nyata yang harus dimiliki mahasiswa setelah menempuh suatu mata kuliah.

IMG 20260727
tengah : Cacik Rut Damayanti, S.Sos., M.Prof.Acc., DBA

Ketua Departemen Administrasi Bisnis FIA UB, Cacik Rut Damayanti, menjelaskan bahwa transformasi pembelajaran OBE merupakan perubahan paradigma dari teacher centered learning menuju student centered learning dan berujung pada outcome centered learning.

“Outcome-Based Education menjelaskan kompetensi yang harus dicapai mahasiswa, sedangkan Project-Based Learning merupakan strategi pembelajaran untuk membantu mencapai kompetensi tersebut. Ketika CPL menuntut mahasiswa mampu menganalisis, mengevaluasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah, metode ceramah saja tentu tidak lagi memadai,” jelasnya.

Pendekatan tersebut memastikan setiap mata kuliah memiliki keterkaitan yang jelas antara profil lulusan, CPL, CPMK, strategi pembelajaran, asesmen, hingga evaluasi berkelanjutan (Continuous Quality Improvement/CQI), sehingga kurikulum mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus kebutuhan dunia kerja.

CBL dan PjBL Menghubungkan Teori dengan Permasalahan Nyata

Pada sesi utama, Prof. Widya Yani menjelaskan bahwa Case-Based Learning (CBL) dan Project-Based Learning (PjBL) bukanlah tujuan dari Outcome Based Education, melainkan strategi pembelajaran yang dipilih sesuai karakteristik capaian pembelajaran mata kuliah.

Menurutnya, CBL menjadi pendekatan efektif ketika mahasiswa dituntut menganalisis persoalan, mengevaluasi berbagai alternatif, hingga menghasilkan rekomendasi berbasis data. Sebaliknya, PjBL dirancang untuk mendorong mahasiswa menghasilkan produk nyata melalui proses perancangan, implementasi, pengujian, dan refleksi yang berlangsung secara kolaboratif.

IMG 20260727
Prof. Ir. Dr. Eng. Widya Wijayanti, S.T., m.T (DIPP-UB)

Prof. Widya menegaskan bahwa perubahan peran dosen menjadi salah satu kunci keberhasilan implementasi pembelajaran aktif.

“Dosen bukan pemberi jawaban, melainkan fasilitator pembelajaran.”

Prinsip tersebut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS), memperkuat argumentasi ilmiah, membangun kolaborasi, hingga menghasilkan solusi yang relevan terhadap persoalan nyata di masyarakat maupun dunia industri.

Keselarasan RPS Menjadi Kunci Implementasi OBE

Selain metode pembelajaran, sosialisasi juga menekankan pentingnya penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sebagai instrumen utama implementasi Outcome Based Education.

IMG 20260727
Yuyun Agus Riani, s.Pd., M.Sc., Ph.D

Dr. Yuyun Ismawati menjelaskan bahwa RPS tidak lagi dipandang sebagai dokumen administratif, melainkan menjadi panduan pembelajaran, kontrak belajar mahasiswa, sekaligus bukti implementasi OBE yang harus memperlihatkan keselarasan antara CPL, CPMK, aktivitas pembelajaran, metode asesmen, dan rubrik penilaian.

“Jika RPS dijadikan acuan, seluruh dosen pengampu harus merujuk pada implementasi Outcome Based Education, termasuk dalam metodologi pembelajaran, rubrik evaluasi, hingga penilaian mahasiswa,” ujarnya.

Keselarasan tersebut memastikan setiap aktivitas belajar benar-benar mengukur kompetensi yang dijanjikan dalam kurikulum, sekaligus menjadi dasar pelaksanaan evaluasi mutu pembelajaran secara berkelanjutan.

Mempersiapkan Lulusan Adaptif Menghadapi Tantangan Global

Penguatan implementasi Case-Based Learning dan Project-Based Learning memperlihatkan komitmen FIA UB dalam menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya menghasilkan penguasaan konsep akademik, tetapi juga kemampuan analitis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, serta inovasi yang relevan dengan dinamika sektor publik maupun dunia industri. Integrasi metode pembelajaran aktif ke dalam kurikulum Outcome Based Education sekaligus memperkuat kesiapan lulusan menghadapi tantangan transformasi digital, keberlanjutan, dan kebutuhan kompetensi masa depan.

Komitmen tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pendidikan tinggi yang berorientasi pada capaian pembelajaran, Tujuan 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui penguatan kompetensi lulusan yang sesuai kebutuhan dunia kerja, serta Tujuan 17 (Partnerships for the Goals) melalui pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan pemangku kepentingan, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Dapatkan informasi terbaru dari Fakultas Ilmu Administrasi Univesitas Brawijaya