Prodi S1 Administrasi Pendidikan adakan Visiting Lecturer Batch 2: Accountability and Governance of Crowdfunding: Enhancing Funding of Higher Educational Institutions

Share to:

WhatsApp Image 2026 06 22 at 09.30.16 (1)

Malang (20/06). Program Studi Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya kembali menyelenggarakan kegiatan Visiting Lecture sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan akademik mahasiswa dan dosen mengenai isu-isu kontemporer dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Jumat, 19 Juni 2026 ini menghadirkan Dr. Muhammad Nazmul Hoque dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia sebagai narasumber utama.

Dalam kuliah tamu yang bertajuk “Strengthening Accountability and Governance of Crowdfunding: Enhancing Funding of Higher Educational Institutions”, Dr. Nazmul Hoque membahas pentingnya inovasi sumber pendanaan bagi perguruan tinggi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan pendidikan tinggi dan keterbatasan dukungan anggaran konvensiona l. Menurut beliau, crowdfunding telah berkembang menjadi salah satu alternatif pendanaan yang efektif dengan memanfaatkan partisipasi masyarakat melalui platform digital.

Pada sesi pemaparan, peserta diperkenalkan pada konsep crowdfunding sebagai mekanisme penggalangan dana yang melibatkan banyak individu untuk mendukung suatu proyek atau program melalui media daring. Crowdfunding dinilai mampu membuka peluang pendanaan baru bagi institusi pendidikan tinggi, khususnya untuk mendukung kegiatan akademik, penelitian, pengembangan fasilitas, hingga program kemahasiswaan.

Narasumber juga menjelaskan berbagai bentuk crowdfunding, antara lain donation-based crowdfunding, reward-based crowdfunding, peer-to-peer lending, dan equity crowdfunding. Masing-masing model memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda sesuai dengan tujuan penggalangan dana yang ingin dicapai oleh suatu organisasi atau institusi pendidikan.

Selain membahas teori dan praktik crowdfunding, Dr. Nazmul Hoque memaparkan berbagai contoh penerapan crowdfunding di sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Inggris. Beberapa platform seperti Mystartr, PitchIn, Hubbab, dan JustGiving telah berhasil mendukung proyek-proyek pendidikan, penelitian, serta kegiatan sosial yang diinisiasi oleh sivitas akademika. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa crowdfunding dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat keberlanjutan pendanaan perguruan tinggi.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa keberhasilan crowdfunding sangat ditentukan oleh penerapan prinsip good governance, terutama aspek akuntabilitas, transparansi, partisipasi, dan kepatuhan terhadap aturan hukum. Kepercayaan publik menjadi faktor utama yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pendanaan berbasis komunitas. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memastikan pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan akademisi. Berbagai pertanyaan dan diskusi berkembang mengenai peluang implementasi crowdfunding di lingkungan perguruan tinggi Indonesia, termasuk integrasinya dengan pengelolaan dana wakaf, endowment fund, serta strategi penguatan hubungan dengan alumni dan mitra eksternal.

Melalui kegiatan Visiting Lecture ini, Program Studi Administrasi Pendidikan FIA Universitas Brawijaya berharap peserta memperoleh wawasan baru mengenai model pendanaan inovatif yang dapat mendukung pengembangan institusi pendidikan tinggi secara berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional antara Universitas Brawijaya dan Universiti Teknologi MARA Malaysia dalam pengembangan keilmuan administrasi dan manajemen pendidikan.

WhatsApp Image 2026 06 22 at 09.30.16

Latest news

Other Articles

Get the latest information from the Faculty of Administrative Sciences, Brawijaya University