Malang (17/6) – Program Studi Ilmu Perpustakaan (PSIP) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menggelar kegiatan Market Signal sebagai forum strategis untuk menjaring masukan dari akademisi, praktisi, asosiasi profesi, serta pengguna lulusan dalam rangka pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya PSIP FIA UB untuk memperkuat identitas keilmuan menuju bidang sains informasi yang berorientasi pada tata kelola informasi, transformasi digital, dan penguatan daya saing global.
Menjawab Tantangan AI dan Transformasi Informasi
Ketua Program Studi PSIP FIA UB, Farida Nurani, menjelaskan bahwa PSIP yang berkembang dari konsentrasi Ilmu Perpustakaan sejak 2011 terus berupaya melakukan penyesuaian terhadap perkembangan disiplin ilmu dan kebutuhan masyarakat.
Program studi yang telah meraih akreditasi Unggul dan akreditasi internasional AQAS tersebut saat ini menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dengan dukungan pembelajaran berbasis proyek dan studi kasus, laboratorium, serta jejaring kerja sama dengan berbagai institusi.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan bahwa perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah lanskap pengelolaan informasi dan menuntut penyesuaian yang lebih progresif dalam pendidikan tinggi.
Prof. Azman Mat Isa menegaskan bahwa program studi perlu merancang kembali profil lulusan agar selaras dengan perubahan global dan perkembangan teknologi.
“Kompetensi terkait AI yang dipadukan dengan sains informasi dan data sangat diperlukan. Yang terpenting bukan sekadar menggunakan AI, tetapi memastikan kualitas penggunaannya sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi organisasi maupun masyarakat,” ujarnya.
Ia juga merekomendasikan penguatan kompetensi analisis data, bibliometrik, open science, keamanan data, visualisasi data, serta peningkatan kemampuan bahasa Inggris. Selain itu, mahasiswa perlu memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan praktik industri melalui program magang dan kolaborasi dengan praktisi di bidang digital dan kecerdasan buatan.
Mengembangkan Profil Lulusan Sesuai Kebutuhan Industri
Masukan serupa disampaikan oleh Hani Qanitah yang menilai bahwa profil lulusan PSIP masih relevan, namun memerlukan penyempurnaan agar sesuai dengan perkembangan profesi berbasis digital.
“Profesi masa depan tidak hanya pustakawan dan arsiparis, tetapi juga spesialis tata kelola informasi, digital records manager, digital preservation officer, hingga records compliance and privacy officer. Posisi-posisi tersebut saat ini semakin banyak dibutuhkan,” jelasnya.
Menurutnya, penguatan kurikulum perlu diarahkan pada penguasaan records and information management, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta tata kelola informasi digital. Mata kuliah baru yang direkomendasikan antara lain tata kelola data dan kecerdasan buatan untuk profesi informasi, keamanan dan manajemen risiko, perlindungan data pribadi, serta praktikum persiapan sertifikasi profesi.
Selain itu, integrasi standar internasional seperti ISO 9001, ISO 27001, ISO 30301, hingga sertifikasi profesi di bidang pengelolaan arsip dan informasi dinilai penting untuk meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.
Mendorong Kurikulum yang Berorientasi Pengguna
Pandangan mengenai perubahan paradigma pendidikan perpustakaan turut disampaikan oleh Dr. Ida Priyanto. Ia menekankan perlunya pergeseran orientasi pendidikan dari yang sebelumnya berfokus pada institusi perpustakaan menuju pendekatan yang lebih berorientasi pada kebutuhan pengguna dan pengelolaan informasi.
Sementara itu, perwakilan pengguna lulusan, Janti Suksmarini, menyampaikan bahwa lulusan PSIP memiliki peluang karier yang luas, namun tetap dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
“Lulusan diharapkan menguasai teknologi dan AI, memiliki literasi informasi yang baik, kompetensi manajerial, kemampuan komunikasi, pelayanan prima, serta siap menghadapi transformasi perpustakaan masa depan,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Lira Redata menyoroti pentingnya penguatan aspek nonteknis dalam proses pembelajaran.
“Dunia kerja membutuhkan individu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu mendengarkan, memahami kebutuhan pengguna, melihat persoalan secara komprehensif, dan membangun kolaborasi di dalam organisasi,” tuturnya.
Arah Pengembangan PSIP FIA UB ke Depan
Hasil Market Signal menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pengembangan PSIP FIA UB. Program studi diharapkan terus melakukan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan kompetensi digital, kecerdasan buatan, analisis dan visualisasi data, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta digital records management.
Selain itu, penguatan pembelajaran berbasis praktik melalui project-based learning, case-based learning, program magang, dan kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, instansi pemerintah, asosiasi profesi, serta praktisi akan menjadi langkah penting untuk memastikan lulusan memiliki pengalaman yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Pengembangan kompetensi komunikasi, kepemimpinan, knowledge management, kemampuan beradaptasi, dan penguasaan bahasa Inggris juga dipandang sebagai faktor strategis dalam meningkatkan daya saing lulusan di tingkat internasional.
Di samping itu, PSIP FIA UB berkomitmen mempertahankan dan meningkatkan keunggulan program studi melalui penerapan Outcome-Based Education (OBE), penguatan jejaring kerja sama, evaluasi kurikulum secara berkala dengan melibatkan para pemangku kepentingan, serta pengembangan identitas keilmuan menuju bidang sains informasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Upaya transformasi PSIP FIA UB tersebut sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kurikulum yang adaptif dan berorientasi masa depan, Tujuan 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan industri, serta Tujuan 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui integrasi teknologi digital dan kecerdasan buatan dalam pengembangan pendidikan tinggi.