Mahasiswa FIA UB Torehkan Prestasi dalam Ajang Unilever Campus Leader 2026

Bagikan Ke:

MALANG (9/6) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB). Muhammad Zaidil, mahasiswa FIA UB, berhasil terpilih sebagai bagian dari Unilever Campus Leader 2026, program pengembangan kepemimpinan mahasiswa berskala nasional yang dikenal kompetitif dan eksklusif.

Keberhasilan tersebut menjadi capaian istimewa mengingat program ini hanya memilih 10 mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia, dengan masing-masing kampus diwakili oleh satu mahasiswa. Pada proses seleksi tahun ini, lebih dari 3.600 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mengikuti tahapan pendaftaran, sebelum akhirnya mengerucut menjadi sekitar 30 kandidat terbaik di tahap wawancara.

Kandidat Unilever Employee Ambassador 2026

Bagi Zaidil, ketertarikan mengikuti program tersebut lahir dari pandangannya terhadap Unilever Campus Leader sebagai ruang pengembangan diri yang prestisius sekaligus penuh tantangan.

“Saya melihat Unilever Campus Leader sebagai program yang sangat prestisius dan ekklusif karena hanya ada sepuluh mahasiswa terpilih dari seluruh Indonesia, dengan satu perwakilan tiap kampus. Ketika tahu jumlah pendaftarnya ribuan dan seleksinya sangat ketat, justru itu yang membuat saya tertarik. Saya merasa ini kesempatan besar untuk menguji kapasitas diri dan melihat sejauh mana saya bisa berkembang,” ungkap Zaidil.

Kegagalan Menjadi Titik Balik Pengembangan Diri

Di balik pencapaiannya, Zaidil mengungkapkan bahwa perjalanan menuju program leadership nasional tersebut tidak terlepas dari pengalaman kegagalan yang pernah dialaminya. Ia mengaku sempat menghadapi fase sulit setelah mengalami penolakan pada kampus impian, pengalaman yang kemudian menjadi titik balik dalam membangun mental dan motivasi untuk berkembang.

Muhammad Zaidil, Mahasiswa Perpajakan Angkatan 2025

Alih-alih berhenti, Zaidil justru memanfaatkan waktu luangnya untuk aktif mencari berbagai kesempatan yang dapat menunjang pengembangan diri dan karier, mulai dari proyek kolaboratif hingga program kepemimpinan mahasiswa.

“Sebenarnya motivasi terbesar saya datang dari pengalaman gagal. Dulu saya sempat dua kali tidak lolos ke kampus impian, bahkan sempat merasa tertinggal ketika teman-teman sudah kuliah sementara saya masih fokus belajar dan tryout. Tapi justru dari situ saya berpikir, saya tidak mau berhenti di satu kegagalan. Saya ingin membuktikan bahwa penolakan itu bukan akhir, melainkan titik untuk membangun pencapaian lain yang lebih besar,” ujarnya.

Ketertarikannya terhadap dunia leadership dan pengembangan bisnis juga telah tumbuh sejak sebelum menjadi mahasiswa FIA UB. Saat berada di Bandung, Zaidil sempat menjalankan usaha di bidang food and beverage sebagai co-founder bersama tim kecil yang dikelolanya.

Tak lama setelah diterima di FIA UB, ia mulai terlibat dalam berbagai proyek pengembangan mahasiswa, termasuk program kolaborasi bersama Google. Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan berbagai pembelajaran baru terkait pemanfaatan teknologi, pengembangan program, hingga penguatan komunikasi publik.

Komunikasi dan Personal Branding Jadi Kunci Lolos

Menurut Zaidil, terdapat tiga kemampuan utama yang paling dibutuhkan dalam proses seleksi program leadership nasional, yakni kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan critical thinking.

Ia menilai keberhasilan dalam program seperti Unilever Campus Leader tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pengalaman organisasi, tetapi juga kemampuan mengenali keunikan diri (Unique Selling Point/USP) dan mengemasnya menjadi nilai tambah.

“Kalau ditanya kunci lolos, menurut saya bukan sekadar pengalaman organisasi atau prestasi akademik. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengenali keunikan diri atau USP, lalu bisa mengemasnya dengan komunikasi yang baik. Banyak orang punya kemampuan, tapi tidak semua bisa menunjukkan value dirinya dengan jelas,” terangnya.

Pengalaman tersebut juga mengajarkannya untuk berani keluar dari zona nyaman. Dalam salah satu proyek sebelumnya bersama Google, Zaidil memilih pendekatan promosi secara langsung ke berbagai fakultas ketika mayoritas peserta lain berfokus pada media daring. Pendekatan berbeda tersebut justru membantunya membangun jejaring dan memperluas dampak program.

Selain itu, ia menilai mahasiswa perlu mulai membangun kemampuan komunikasi, leadership, critical thinking, hingga kemampuan content creating dan pemasaran diri sejak awal kuliah agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Lingkungan FIA UB Dorong Mahasiswa Berkembang

Dalam perjalanannya, Zaidil menilai lingkungan FIA UB memberikan dukungan besar terhadap pengembangan kapasitas mahasiswa. Kesempatan untuk terlibat dalam organisasi, kolaborasi kegiatan, hingga tampil sebagai narasumber di berbagai forum turut meningkatkan kepercayaan dirinya.

Ia juga mengenang pengalaman belajar bersama I Gede Eko Putra Sri Sentanu, dosen pengampu mata kuliah ekonomi dasar, yang menurutnya banyak memberikan perspektif mengenai kondisi nyata dunia kerja, tantangan lapangan, serta cara menghadapi berbagai situasi secara strategis dan adaptif.

Menurut Zaidil, pengalaman belajar di FIA UB tidak hanya memperkuat pemahaman akademik, tetapi juga membantu mahasiswa membangun pola pikir yang lebih siap menghadapi tantangan industri yang dinamis.

Keberhasilan Zaidil menjadi bagian dari Unilever Campus Leader 2026 sekaligus mencerminkan bagaimana mahasiswa FIA UB terus menunjukkan daya saing di tingkat nasional melalui keberanian mengambil peluang, membangun kapasitas diri, dan aktif terlibat dalam ruang pengembangan kepemimpinan.

Di tengah meningkatnya tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kombinasi antara kompetensi akademik, pengalaman praktis, dan kemampuan adaptasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk bersaing di level yang lebih luas. Lebih dari sekadar pencapaian individu, keberhasilan ini menunjukkan peran FIA UB dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendorong mahasiswa berkembang sebagai generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap memberikan dampak bagi masyarakat. Hal tersebut selaras dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kompetensi mahasiswa dan pengembangan kapasitas kepemimpinan, serta Tujuan 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dalam mempersiapkan talenta muda yang mampu bersaing dan berkontribusi di dunia profesional maupun industri.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Dapatkan informasi terbaru dari Fakultas Ilmu Administrasi Univesitas Brawijaya