Kuliah Tamu: Publish Smarter, Impact Greater: Strategic AI for Academic Writing

Share to:

Malang, 19 Mei 2026 – Di era perkembangan teknologi digital yang semakin maju, kemampuan menyusun karya ilmiah yang berkualitas menjadi salah satu keterampilan penting bagi mahasiswa. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) turut memberikan berbagai kemudahan dalam mendukung proses penulisan akademik, mulai dari pengolahan ide dan pencarian referensi hingga peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Menyikapi perkembangan tersebut, Program Magister Administrasi Bisnis (MBA), Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), Universitas Brawijaya menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture bertema “Publish Smarter,
Impact Greater: Strategic AI for Academic Writing” sebagai bentuk komitmen departemen dalam mendukung mahasiswa untuk menulis dan mempublikasikan artikel akademik, khususnya melalui pemanfaatan teknologi AI secara bijak dan efektif guna memperkuat kualitas publikasi di tingkat nasional maupun internasional. Program ini sangat relevan bagi mahasiswa program magister, mengingat publikasi artikel jurnal merupakan salah satu persyaratan akademik paling menantang dalam program studi ini.

Kegiatan Guest Lecture ini dihadiri oleh Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis, Prof. Andriani Kusumawati, S.Sos., M.Si., DBA., yang memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan perkembangan teknologi, serta menyampaikan harapannya agar mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan dan karier akademik mereka. Sambutan kedua disampaikan oleh Prof. Agung Nugroho Luthfi Imam Fahrudi, S.Sos., M.Bus Sys.Pro, Ph.D. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Program Magister Administrasi Bisnis tahun ajaran 2025/2026.

IMG

Narasumber utama pada kegiatan ini adalah Dr. Mageswari Kunasegaran, akademisi dari Departemen Pengembangan Profesional dan Pendidikan Berkelanjutan, Fakultas Studi Pendidikan, Universiti Putra Malaysia (UPM). Beliau memiliki keahlian di bidang pengembangan sumber daya manusia, studi bakat, serta pariwisata dan pemasaran, dengan rekam jejak penelitian dan publikasi yang telah diakui di tingkat internasional.

Dalam pemaparannya, Dr. Mageswari menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis. Tulisan akademik harus lahir dari pemikiran peneliti itu sendiri; AI hanya dapat membantu mempercepat proses dan tidak boleh mengambil alih peran intelektual penulis. Beliau juga mengingatkan bahwa pembimbing akademik sudah mampu mendeteksi tulisan yang dihasilkan AI melalui pola bahasanya yang khas, sehingga transparansi dalam penggunaan AI adalah hal yang tidak dapat dikompromikan. Dengan demikian, AI paling tepat diposisikan sebagai penghubung yang menjembatani ide, sementara kualitas ide itu sendiri harus tetap berasal dari penulis.

Dr. Mageswari juga menekankan pentingnya storytelling dalam penulisan akademik. Menurutnya, artikel ilmiah yang baik bukan hanya soal data, melainkan tentang bagaimana peneliti menyampaikan temuannya secara meyakinkan dan sistematis kepada pembaca. Oleh karena itu, penulis perlu mengidentifikasi target audiensnya terlebih dahulu sebelum memulai proses penulisan agar komunikasi gagasan menjadi jelas dan efektif.

Lebih lanjut, terkait pemilihan jurnal, Dr. Mageswari memberikan panduan agar mahasiswa menghindari jurnal predator dengan memanfaatkan Beall’s List, memeriksa status pengindeksan seperti Scopus dan Web of Science, serta memahami tingkatan jurnal (Tier atas, menengah, dan bawah) untuk menentukan pilihan yang sesuai dengan kekuatan naskah. Beliau menyarankan agar jurnal target sudah ditentukan sejak awal proses penulisan sehingga isi artikel dapat diselaraskan dengan cakupan jurnal yang dipilih.

IMG

Selanjutnya, Dr. Mageswari memaparkan karakteristik naskah yang baik, yakni artikel yang tidak hanya memuat ide menarik, tetapi juga mengembangkan dan
mengomunikasikan ide tersebut secara meyakinkan dan ketat. Untuk itu, beliau menguraikan enam langkah menulis artikel yang berdampak yaitu dengan memahami audiens, menyelaraskan naskah dengan cakupan jurnal, menentukan jurnal target sejak dini, membangun pendahuluan yang kuat dengan identifikasi kesenjangan penelitian yang jelas, mengembangkan metodologi secara ketat dengan memahami keterbatasan analitik data, serta mengomunikasikan temuan menggunakan definisi dan hasil yang menjawab kesenjangan yang telah diidentifikasi. Beliau juga mengingatkan pentingnya surat pengantar yang profesional, kepatuhan terhadap template jurnal, serta target publikasi yang terencana, baik di Scopus, Web of Science, konferensi, maupun book chapter.

Dalam hal penanganan umpan balik reviewer, Dr. Mageswari menegaskan bahwa seluruh komentar harus ditanggapi secara formal, meskipun penulis tidak harus menyetujui semuanya. Apabila dua reviewer memberikan saran yang bertentangan, penulis dapat menuliskan surat kepada editor untuk meminta klarifikasi. Jika revisi yang diminta tidak memungkinkan atau bertentangan dengan desain penelitian, penulis berhak mempertahankan posisi ilmiahnya dengan argumen yang berdasar. Terkait kebaruan (novelty), beliau menegaskan bahwa kebaruan dapat bersumber dari kesenjangan empiris, teoritis, maupun metodologis. Ketepatan waktu dan relevansi terhadap isu terkini menjadi faktor penentu kekuatan posisi sebuah artikel.

Dalam sesi tanya jawab, peserta guest lecture mengangkat beberapa isu penting terkait penulisan dan publikasi akademik. Partisipan pertama, menanyakan terkait strategi yang tepat bagi penulis pemula yang khawatir topiknya tentang bagaimana penurunan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap masyarakat akan kehilangan relevansi seiring berjalannya waktu. Narasumber menyarankan agar mahasiswa segera memulai penulisan dengan mengacu pada artikel-artikel yang sudah ada tentang topik krisis ekonomi, sekaligus memanfaatkan teknologi terkini seperti platform digital atau alat AI sebagai sudut pandang baru yang dapat memperkuat kebaruan penelitian.

Partisipan kedua, menanyakan tentang bagaimana cara merespons komentar reviewer yang saling bertentangan serta strategi meminimalkan kemiripan di bagian metodologi. Dr. Mageswari menegaskan bahwa semua komentar reviewer wajib ditanggapi, namun penulis berhak mempertahankan posisi ilmiahnya dengan argumen yang berdasar. Untuk mengatasi kemiripan yang tinggi pada bagian metodologi, beliau menyarankan parafrase aktif melalui restrukturisasi kalimat secara menyeluruh, penambahan detail kontekstual yang unik untuk studi tersebut, serta penggunaan kutipan yang tepat. Beliau juga mengingatkan bahwa tingkat
kemiripan yang tinggi di bagian metodologi sudah lazim dipahami oleh editor dan tidak otomatis dianggap sebagai pelanggaran.

Tanya Jawab.png

Partisipan ketiga, menanyakan seperti apa batasan penggunaan AI untuk pengiriman naskah ke jurnal Q1/Q2 serta tren terkini di bidang HR dan keberlanjutan. Dr. Mageswari menegaskan bahwa AI hanya efektif bila digunakan oleh peneliti yang telah memiliki penguasaan mendalam atas subjeknya, tanpa fondasi pengetahuan yang kuat, output yang dihasilkan AI akan lemah dan tidak bermakna. Terkait tren HR, beliau menyebutkan bahwa bidang ini telah bergeser dari aspek fisik tenaga kerja menuju keberlanjutan, kesejahteraan, dan transformasi digital. Dalam penelitian HR kuantitatif, peran mediasi dan moderasi perlu diartikulasikan secara jelas. Beliau pun menganjurkan mahasiswa untuk aktif membangun jaringan dengan para profesional industri agar tetap relevan dengan isu-isu yang sedang berkembang.

Sebagai penutup, Dr. Mageswari menyampaikan bahwa keberhasilan dalam dunia akademik berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Beliau mengingatkan bahwa proses belajar dan berkarya memang tidak selalu mudah, namun ketekunan dan keterbukaan untuk terus berkembang adalah kunci utama. Dengan membangun kolaborasi seluas-luasnya antara akademisi, teknologi, dan industri, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tantangan publikasi global.

Kegiatan Guest Lecture ini juga memiliki relevansi yang kuat dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan kapasitas mahasiswa dalam penulisan akademik, pemilihan jurnal yang kredibel, serta pemanfaatan AI secara etis dan produktif, kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam meningkatkan mutu pembelajaran, literasi akademik, dan kompetensi riset mahasiswa. Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses penulisan dan publikasi ilmiah juga sejalan dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, karena mendorong penggunaan teknologi digital sebagai sarana inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Selain itu, peningkatan kemampuan publikasi dan jejaring akademik mahasiswa turut berkaitan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena keterampilan akademik dan digital menjadi modal penting dalam pengembangan karier profesional maupun akademik. Penekanan terhadap transparansi penggunaan AI, penghindaran jurnal predator, serta sikap profesional dalam merespons reviewer juga mencerminkan dukungan terhadap SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, terutama dalam membangun budaya akademik yang berintegritas. Lebih jauh, kehadiran narasumber internasional dari Universiti Putra Malaysia menunjukkan kontribusi terhadap SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui penguatan kolaborasi lintas institusi dan lintas negara dalam menghadapi tantangan publikasi ilmiah global.

Latest news

Other Articles

Get the latest information from the Faculty of Administrative Sciences, Brawijaya University