MALANG (25/4) – Program Student Inbound 2026 di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar pertukaran pelajar. Selama satu pekan terakhir, mahasiswa dari Nueva Ecija University of Science & Technology (NEUST), Filipina, tidak hanya mendalami teori pariwisata di kelas, tetapi juga terpikat oleh kehangatan budaya dan cita rasa lokal Malang.
Apa Kata Mereka? Intip Kesan Jujur Mahasiswa Filipina di FIA UB
Sebagai tuan rumah, mahasiswa Program Studi Pariwisata FIA UB memainkan peran kunci sebagai garda terdepan dalam mengenalkan identitas Indonesia. Pendampingan dimulai sejak prosesi pembukaan yang khidmat, di mana delegasi Filipina berdiri berdampingan dengan mahasiswa lokal menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, hingga eksplorasi budaya yang lebih santai.
Menemukan “Rumah” dalam Perbedaan
Keramahan khas Indonesia menjadi poin utama yang membekas bagi para delegasi. Salah satu mahasiswa NEUST mengungkapkan betapa suasana belajar di FIA UB terasa sangat inklusif.

“Aku suka banget sama keramahtamahan orang-orang di sini. Suasana belajarnya jadi terasa sangat dekat dan hangat, membuat kami merasa diterima sejak hari pertama,” ungkapnya.
Ia juga memberikan pesan inspiratif bagi mahasiswa lain yang ingin mencoba program internasional: “Ini adalah kesempatan yang luar biasa. Pesanku untuk yang lain: jangan takut untuk mengeksplorasi hal baru, meskipun itu terlihat asing atau tidak familiar bagi kita.”
Eksplorasi Rasa dan Budaya: Dari Bakso hingga Kayutangan
Tidak hanya di dalam kelas, para mahasiswa ini juga terjun langsung mencicipi denyut nadi pariwisata Malang. Kuliner lokal pun tak luput dari daftar mereka. “Aku sudah mencoba Bakso, dan rasanya sangat khas,” ujar salah satu delegasi.

Ketika ditanya mengenai rekomendasi destinasi, Kayutangan Heritage menjadi tempat yang paling mereka unggulkan. “Jika kamu berkunjung ke Indonesia, aku akan sangat merekomendasikan Kayutangan. Tempat itu memiliki daya tarik yang luar biasa.”
Batik: International Formal Attire yang Kaya Seni
Salah satu momen paling berkesan bagi para delegasi adalah saat mereka mengenakan Batik pada acara penutupan. Bagi mereka, Batik bukan sekadar pakaian tradisional biasa.

“Batik itu adalah International Formal Attire yang sangat kaya dalam mengekspresikan seni. Mengenakannya membuat kami merasa terhubung dengan nilai-nilai Indonesia,” tambah delegasi tersebut dengan bangga.
Inisiatif aktif mahasiswa Pariwisata FIA UB dalam pendampingan ini merupakan wujud nyata kontribusi fakultas terhadap SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) And SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan). Dengan membangun jembatan pemahaman dan solidaritas antar-bangsa melalui pertukaran pengetahuan, FIA UB membuktikan bahwa mahasiswanya dibekali kemampuan untuk menjadi duta budaya yang profesional, adaptif, dan siap bersaing di level internasional.