Putus Kemiskinan dari Desa, Riset Doktor UB Tawarkan Strategi Ekonomi Modern Bagi Warga

Dr. Sugeng Agus Subekti, SH., M.Si (tengah) bersama jajaran tim penguji usai menempuh Ujian Akhir Disertasi Program Doktor Ilmu Administrasi (PDIA) Universitas Brawijaya Kampus Jakarta pada 2 April 2026

MALANG – Suasana ruang ujian disertasi di Gedung Program Doktor Ilmu Administrasi (PDIA) Universitas Brawijaya Kampus Jakarta tampak khidmat namun penuh energi pada Kamis (2/4/2026). Di hadapan dewan penguji, Sugeng Agus Subekti secara meyakinkan mempertahankan risetnya yang menawarkan solusi konkret memutus rantai kemiskinan langsung dari akar rumput.

Sugeng, yang sehari-hari bertugas sebagai Tenaga Ahli di Sekretariat Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Pemprov DKI Jakarta, resmi menyandang gelar Doktor setelah membedah tata kelola desa yang selama ini sering terabaikan. Di bawah arahan Dr. Dra. Lely Indah Mindarti, M.Si selaku Ketua Program Studi, sidang ini bukan sekadar ujian akademik, melainkan sebuah pernyataan sikap terhadap nasib pembangunan desa di Indonesia.

Menghidupkan Ekonomi Desa Melalui Pertanian Modern

Pemaparan Ujian Akhir Disertasi Sugeng Agus Subekti di hadapan jajaran tim penguji PDIA Universitas Brawijaya Kampus Jakarta pada 2 April 2026.

Mengambil lokasi di Desa Tanjungan, Klaten, Sugeng memaparkan bahwa kemakmuran warga hanya bisa dicapai jika desa berani bertransformasi. Ia mengaitkan temuan lapangannya dengan pilar SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), di mana kunci utamanya bukan pada bantuan sosial semata, melainkan pada penguatan industri kecil dan modernisasi pertanian.

“Potensi ekonomi lokal kita luar biasa, tapi seringkali terhambat oleh pengelolaan yang masih konvensional. Jika industri kecil di desa dikelola secara profesional dan pertanian kita masuk ke ranah modern, pendapatan masyarakat akan meningkat secara inklusif,” ujar Sugeng dalam narasinya di depan penguji.

Langkah ini sejalan dengan SDG 8, yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan pekerjaan layak bagi semua. Menurut Sugeng, saat warga desa memiliki penghasilan yang stabil dari tanahnya sendiri, dorongan untuk merantau ke kota demi mencari kerja akan berkurang dengan sendirinya.

Fasilitas Dasar: Fondasi Kesejahteraan Warga

Sidang yang berlangsung interaktif tersebut juga menyoroti pentingnya infrastruktur sebagai penunjang ekonomi. Sugeng merekomendasikan agar pemerintah tidak lagi menunda pembangunan infrastruktur dasar seperti akses air bersih, sanitasi, dan jalan produksi yang layak.

“Kita tidak bisa bicara kemakmuran jika fasilitas dasar saja belum terpenuhi. Air bersih dan jalan yang bagus adalah urat nadi ekonomi desa. Tanpa itu, industri kecil sulit berkembang,” tambahnya.

Dr. Lely Indah Mindarti dalam kesempatan tersebut mengapresiasi kedalaman riset ini. Ia menekankan bahwa rekomendasi Sugeng mengenai peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan berkelanjutan adalah hal yang sangat aplikatif untuk segera diadopsi oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Dengan rampungnya ujian akhir disertasi ini, Universitas Brawijaya kembali menyumbangkan pemikiran strategis bagi bangsa. Riset ini diharapkan menjadi panduan bagi para pemangku kepentingan untuk mengubah wajah desa dari wilayah yang identik dengan kemiskinan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan.