{"id":3182,"date":"2014-12-05T18:39:24","date_gmt":"2014-12-05T11:39:24","guid":{"rendered":"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/?p=3182"},"modified":"2014-12-11T11:25:14","modified_gmt":"2014-12-11T04:25:14","slug":"bahas-masalah-tki-di-fia-ub-wakil-dubes-ri-di-malaysia-beberkan-pola-pikir-baru-dalam-manajemen-tenaga-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/blog\/berita\/bahas-masalah-tki-di-fia-ub-wakil-dubes-ri-di-malaysia-beberkan-pola-pikir-baru-dalam-manajemen-tenaga-kerja.html","title":{"rendered":"Bahas Masalah TKI di FIA UB, Wakil Dubes RI di Malaysia Beberkan Pola Pikir Baru dalam Manajemen Tenaga Kerja"},"content":{"rendered":"<p>Segala permasalahan memilukan yang terkait dengan TKI kita di luar negeri tidak akan terjadi bila kita bisa merubah pola pikir lama yang justru melemahkan kita sendiri. Pernyataan itu diungkapkan oleh Hermono, Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, ketika menghadiri Focus Group Discussion tentang Manajemen Ketenagakerjaan RI, Jumat (5\/12). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Jurusan Administrasi Publik FIA UB tersebut berlangsung di Ruang Seminar Gedung B FIA UB Lantai 2 dan dihadiri oleh dosen, mahasiswa, dan perwakilan lembaga-lembaga pengelola tenaga kerja.<\/p>\n<div id=\"attachment_3183\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0712.jpg\"><img aria-describedby=\"caption-attachment-3183\" decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-3183\" src=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0712-300x199.jpg\" alt=\"Prof Bambang Supriyono (tengah) bersama Hermono (kiri) dan Chaerul Saleh (kanan) \" width=\"300\" height=\"199\" srcset=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0712-300x199.jpg 300w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0712.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-3183\" class=\"wp-caption-text\">Prof Bambang Supriyono (tengah) bersama Hermono (kiri) dan Chaerul Saleh (kanan)<\/p><\/div>\n<div id=\"attachment_3184\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0715.jpg\"><img aria-describedby=\"caption-attachment-3184\" decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-3184\" src=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0715-300x199.jpg\" alt=\"Peserta Focus Group Discussion\" width=\"300\" height=\"199\" srcset=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0715-300x199.jpg 300w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0715.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-3184\" class=\"wp-caption-text\">Peserta Focus Group Discussion<\/p><\/div>\n<p>Hermono mengungkapkan bahwa semangat \u201cRevolusi Mental\u201d yang digagas oleh Presiden Joko Widodo harus bisa merubah pola pikir pengelolaan tenaga kerja dari <em>\u201cconventional wisdom\u201d <\/em>menuju \u201c<em>new paradigm<\/em>\u201d. Pola pikir lama yang melemahkan kita adalah pemikiran bahwa pengiriman tenaga kerja ke luar negeri hanya semata berdasarkan motif ekonomi, seperti peningkatan devisa dan mengurangi pengangguran. Sementara itu, pola pikir baru yang perlu dikembangkan adalah pengiriman TKI sebagai sarana peningkatan kualitas SDM, perlindungan harkat dan martabat manusia, serta sebagai alat diplomasi negara. \u201cPola pikir lama akan membuat kita selalu merasa membutuhkan negara lain, sehingga posisi kita menjadi lemah,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Hermono mengungkapkan bahwa tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia saat ini berjumlah sekitar 3 juta orang. Mereka tersebar di berbagai bidang pembangunan Malaysia, sehingga sebenarnya Malaysia sangat membutuhkan kita. Akan tetapi, pola pikir lama itulah yang membuat kita tetap lemah seperti sekarang. \u201cHal ini diperparah dengan adanya UU No. 39 tahun 2004 yang lebih pro pada penempatan yang besar perputaran uangnya dan mengabaikan unsur perlindungan terhadap mereka,\u201d ujarnya. Ia berharap RUU tentang ketenagakerjaan yang sedang digodok DPR bisa merubah pola pikir ini.<\/p>\n<div id=\"attachment_3185\" style=\"width: 310px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0724.jpg\"><img aria-describedby=\"caption-attachment-3185\" decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-3185\" src=\"http:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0724-300x199.jpg\" alt=\"Hermono (tengah) sedang memaparkan gagasannya\" width=\"300\" height=\"199\" srcset=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0724-300x199.jpg 300w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/DSC_0724.jpg 1024w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-3185\" class=\"wp-caption-text\">Hermono (tengah) sedang memaparkan gagasannya<\/p><\/div>\n<p>Dekan FIA UB Prof. Dr. Bambang Supriyono dalam sambutannya meminta Hermono untuk menjelaskan tentang peranan <em>reform agents<\/em> dalam ketenagakerjaan dan bagaimana perbandingan perannya di negara maju dan berkembang. Selain itu, Bambang berharap dengan adanya pemaparan dari Hermono, mahasiswa dapat melihat secara obyektif tentang permasalahan TKI ini. \u201cSelama ini yang di-<em>blow up <\/em>hanya konfliknya saja, padahal sisi harmonisasinya juga banyak mengingat dua negara ini sama-sama Melayu dan Muslim,\u201d ujar profesor yang ramah ini. (ALA\/FIA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Segala permasalahan memilukan yang terkait dengan TKI kita di luar negeri tidak akan terjadi bila kita bisa merubah pola pikir lama yang justru melemahkan kita sendiri. Pernyataan itu diungkapkan oleh Hermono, Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, ketika menghadiri Focus&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":60,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[20],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3182"}],"collection":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/users\/60"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3182"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3182\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3182"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3182"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/lama\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3182"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}