Texts
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, BUDAYA ORGANISASI, LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA YANG BERDAMPAK PADA KINERJA PEGAWAI : Studi pada Tenaga Kependidikan Politeknik Negeri Ujung Pandang
RINGKASAN
Muh. Nurul Ihsan, 2025. Program Magister Administrasi Bisnis. Universitas
Brawijaya. “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Budaya Organisasi, Lingkungan Kerja
Terhadap Kepuasan Kerja yang Berdampak Pada Kinerja Pegawai (Studi Tenaga
Kependidikan Politeknik Negeri Ujung Pandang)”. Dosen pembimbing utama: Prof.
Dr. Kusdi Raharjo, DEA. Anggota: Dr. Teuku Noerman, SE., MM.
Penelitian ini di latarbelakangi oleh fenomena tentang belum optimalnya kinerja
SDM pada Lembaga Pemerintah dalam hal ini Aparatur Sipil Negara (ASN). Dikutip pada
laman Kompas.com, Plt Kepala BKN RI perioode 2022-2024 Bima Haria Wibisana
menyatakan ”Kemampuan atau performa sumber daya manusia (SDM) yang bekerja
sebagai pegawai pemerintahan di Indonesia dinilai cukup rendah bahkan buruk, ada 4
ciri pekerja yakni star (bintang), workhorse (kuda pekerja), trainee, dan deadwood
(pekerja kategori pemalas). Pegawai yang masuk kategori star hanya 19,82 persen
sedangkan, deadwood 35 persen”. Selain kinerja ASN secara Nasional, fenomena
rendahnya kinerja juga tercermin pada salah satu perguruan tinggi negeri yang menjadi
objek penelitian ini. Temuan dari data internal menunjukkan realisasi kehadiran maupun
nilai capaian kinerja tenaga kependidikan mengalami tren penurunan selama tiga tahun
terakhir (2021-2023). Pada tahun 2021 realisasi kehadiran tercatat sebesar 90% dan nilai
capaian kinerja sebesar 91%. Namun, pada tahun 2022 keduanya menurun masing
masing menjadi 87% dan 88%. Penurunan berlanjut pada tahun 2023, realisasi kehadiran
hanya mencapai 85% dan nilai capaian kinerja turun hingga 84%.
Untuk menjawab fenomena ini, kami mengintegrasikan teori Stimulus-Organism
Response (S-O-R) dan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai suatu kerangka kerja.
Teori S-O-R memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana manusia merespons
stimulus dari lingkungan. Dalam pendekatan ini, stimulus dari lingkungan (S)
mempengaruhi organism (O) yang dalam hal ini merujuk pada kondisi psikologis dan
emosional individu. Kondisi tersebut kemudian menentukan bagaimana individu
merespons stimulus tersebut, yang bisa berupa pendekatan (approach) atau
penghindaran (avoidance), perilaku pendekatan (approach behavior) mencakup semua
tindakan positif individu sedangkan, perilaku penghindaran (avoidance behavior)
merupakan kebalikan dari perilaku positif tersebut. Stimulus dalam penelitian ini di ukur
menggunakan gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan lingkungan kerja.
Sedangkan, teori TPB memberikan konsep yang menggambarkan keterkaitan antara niat
dan perilaku individu. Niat ini dipengaruhi oleh 3 faktor antara lain, sikap (Attitude), norma
subjektif (Subjective norm), dan kontrol perilaku (perceived behavioral control). Namun
dalam penelitian ini kami memfokuskan pada faktor sikap, Hal ini didasarkan pada
pertimbangan bahwa sikap merupakan determinan paling konsisten dan kuat dalam
memengaruhi niat dibandingkan dengan norma maupun kontrol perilaku. ASN bekerja
dalam lingkungan birokrasi yang ketat dan seragam, sehingga norma sosial dan persepsi
kontrol relatif homogen serta lebih banyak ditentukan oleh regulasi formal. Dengan
demikian, variasi niat kerja ASN lebih banyak muncul dari faktor internal berupa sikap
terhadap pekerjaannya. Sikap kerja yang positif akan berdampak pada perilaku yang
positif, sebaliknya sikap kerja yang negatif akan menghasilkan perilaku kerja yang negatif
juga. Sikap kerja di ukur dengan kepuasan kerja dan respon atau perilaku di ukur dengan
kinerja.
Secara empiris, beberapa penelitian terdahulu yang digunakan sebagai penguat
dalam penelitian ini mengkonfirmasi hal serupa. Mereka menemukan hubungan
signifikan antara gaya kepemimpinan, budaya organisasi, dan lingkungan kerja terhadap
kepuasan kerja yang pada akhirnya berdampak pada kinerja. Namun, penelitian
terdahulu masih kurang yang mengkaji variabel-variabel di atas pada sektor pendidikan,
khususnya Perguruan Tinggi Vokasi. Teori yang digunakan juga belum ada yang
mengaplikasikan teori SOR dan TPB. Hal ini yang menjadi kebaruan pada penelitian ini
untuk menjawab masalah kinerja dengan pendekatan teori SOR dan TPB.
Metode penelitian yang digunakan explanatory research dengan pendekatan
kuantitaf untuk menguji hubungan antar variabel. Sehingga, bisa menjawab tujuan
penelitian yaitu mengkaji hubungan langsung antara variabel eksogen dengan variabel
endogen dan peran mediasi dari kepuasan kerja atas hubungan antar variabel . Data
primer dikumpulkan dengan pembagian kuesioner pada seluruh tenaga kependidikan
Politeknik Negeri Ujung Pandang. Kemudian, data diolah menggunakan perangkat lunak
SmartPLS. Setelah pengolahan data, dilakukan interpretasi hasil yang kemudian di
integrasikan kedalam tesis ini.
Penelitian ini menemukan dua stimulus utama yang berdampak langsung pada
kinerja yaitu, gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja. Gaya kepemimpinan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, sejalan dengan S-O-R dan TPB
kepemimpinan yang visioner dan partisipatif mendorong niat serta perilaku kerja
produktif. Lingkungan kerja juga berpengaruh positif dan signifikan; aspek non-fisik
seperti kerja sama dan relasi atasan–bawahan menonjol, sementara kondisi fisik
(pencahayaan, sirkulasi udara, keamanan) dinilai baik. Sebaliknya, budaya organisasi
tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan pada kinerja meski dinilai positif,
mengindikasikan bahwa nilai-nilai budaya belum sepenuhnya teraktualisasi menjadi
perilaku kerja.
Bergerak ke mekanisme psikologis, kepuasan kerja terbukti berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kinerja, menegaskan peran organism dalam S-O-R/TPB: stimulus
yang tepat membentuk sikap positif yang mendorong perilaku produktif. Budaya
organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan terutama pada dimensi
orientasi tim dan ketelitian sementara lingkungan kerja juga meningkatkan kepuasan.
Namun, pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan tidak signifikan, meski sisi
transformasional diapresiasi, indikasi yang muncul adalah faktor utilitarian seperti
imbalan/insentif dan promosi (dimensi pay dan promotion) belum memenuhi ekspektasi
pegawai.
Hasil peran mediasi kepuasan kerja dalam hubungan gaya kepemimpinan dan
lingkungan kerja terhadap kinerja tidak signifikan (no mediation). Artinya, gaya
kepemimpinan dan lingkungan kerja meningkatkan kinerja pegawai lewat jalur langsung.
Dilain sisi, kepuasan kerja memiliki peran mediasi penuh dalam hubungan budaya
organisasi terhadap kinerja pegawai memiliki peran mediasi penuh (full mediation)
sehingga budaya bekerja melalui kepuasan untuk mendorong kinerja.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja
pegawai tidak hanya bergantung pada stimulus eksternal semata, melainkan juga pada
bagaimana stimulus tersebut diinternalisasi menjadi sikap positif melalui kepuasan kerja.
Gaya kepemimpinan dan lingkungan kerja terbukti mampu mendorong kinerja secara
langsung, sementara budaya organisasi hanya berdampak melalui kepuasan kerja
sebagai mekanisme psikologis. Dengan demikian, organisasi perlu menyeimbangkan
faktor struktural (budaya, sistem penghargaan, peluang promosi) dengan faktor relasional
(kepemimpinan visioner, lingkungan kerja kondusif) agar dapat membentuk kepuasan
kerja yang berkelanjutan dan pada akhirnya menghasilkan kinerja optimal.
SUMMARY
Muh. Nurul Ihsan, 2025. Master's Program in Business Administration, Universitas
Brawijaya. "The Influence of Leadership Style, Organizational Culture, and Work
Environment on Job Satisfaction and Its Impact on Employee Performance
(Research on Education Personnel at Politeknik Negeri Ujung Pandang)."
Supervisor: Prof. Dr. Kusdi Raharjo, DEA.; Co-Supervisor: Dr. Teuku Noerman, SE., MM.
This study was based on the phenomenon of suboptimal human resource
(HR) performance in government institutions, particularly among Indonesian civil
servants (ASN). As reported by Kompas.com, Bima Haria Wibisana, the Acting
Head of BKN RI for the 2022–2024 period, stated that the performance of
government employees in Indonesia was considered relatively low, even poor. He
categorized employees into four groups: stars, workhorses, trainees, and
deadwood, with only 19.82% classified as stars and 35% as deadwood. Beyond
the national context, the same issue was reflected in one state university that
became the object of this study. Internal findings showed that both attendance
realization and performance achievement scores of educational staff had
experienced a declining trend over the last three years (2021–2023). In 2021,
attendance was recorded at 90% and performance scores at 91%. However, in
2022, both decreased to 87% and 88%, and in 2023, attendance fell further to
85% while performance dropped to 84%.
To address this issue, the study integrated the Stimulus–Organism
Response (S-O-R) theory and the Theory of Planned Behavior (TPB) as its
framework. The S-O-R theory provided an in-depth perspective on how individuals
responded to environmental stimuli. In this approach, environmental stimuli (S)
influenced the organism (O), referring to the psychological and emotional
conditions of individuals. These conditions then determined how individuals
responded to the stimuli, either through approach or avoidance behaviors.
Approach behaviors included all positive actions, while avoidance behaviors
represented the opposite. In this study, the stimuli were measured through
leadership style, organizational culture, and work environment. Meanwhile, TPB
offered a concept describing the relationship between intention and behavior,
influenced by three factors: attitude, subjective norms, and perceived behavioral
control. However, this study focused on attitude, as it was considered the most
consistent and strongest determinant of intention compared to norms and control.
ASN worked within a strict and uniform bureaucracy, making norms and perceived
control relatively homogeneous and largely determined by formal regulations.
Therefore, variations in work intention among ASN emerged more from internal
factors, namely attitudes toward their jobs. Positive attitudes led to positive
behaviors, while negative attitudes resulted in negative behaviors. Job satisfaction
was used to measure attitude, while performance was used to measure behavior.
Empirically, several previous studies used to support this research
confirmed similar findings. They reported significant relationships between
leadership style, organizational culture, and work environment with job
satisfaction, which in turn influenced performance. However, earlier studies rarely
examined these variables within the education sector, particularly in vocational
higher education. Moreover, no previous research had applied both S-O-R and
TPB theories in this context. This represented the novelty of the study in
addressing performance issues through the integration of these two theoretical
perspectives.
The research employed an explanatory quantitative approach to test the
relationships among the variables. This method enabled the study to examine both
the direct relationships between exogenous and endogenous variables and the
mediating role of job satisfaction. Primary data were collected through
questionnaires distributed to all educational staff at Politeknik Negeri Ujung
Pandang. The data were then processed using SmartPLS software, and the
results were interpreted and integrated into this thesis.
The findings indicated two main stimuli that directly influenced performance:
leadership style and work environment. Leadership style had a positive and
significant effect on performance, consistent with S-O-R and TPB, where visionary
and participative leadership encouraged intentions and productive work
behaviors. The work environment also had a positive and significant effect, with
non-physical aspects such as teamwork and supervisor–employee relationships
standing out, while physical conditions (lighting, air circulation, safety) were also
rated positively. Conversely, organizational culture did not show a significant direct
effect on performance, even though it was perceived positively, suggesting that
cultural values had not been fully internalized into work behavior.
At the psychological level, job satisfaction was found to have a positive and
significant effect on performance, reinforcing the role of the organism in S-O
R/TPB: appropriate stimuli shaped positive attitudes that encouraged productive
behavior. Organizational culture had a positive and significant effect on
satisfaction, especially in the dimensions of team orientation and attention to
detail, while the work environment also improved satisfaction. However, the effect
of leadership style on satisfaction was not significant, even though
transformational aspects were appreciated. This indicated that utilitarian factors
such as rewards and promotions (pay and promotion dimensions) did not yet meet
employee expectations.
The mediating role of job satisfaction in the relationship between leadership
style and work environment with performance was found to be insignificant (no
mediation). This meant that leadership style and work environment enhanced
performance directly. On the other hand, job satisfaction played a full mediating
role in the relationship between organizational culture and performance (full
mediation), indicating that culture influenced performance only through
satisfaction.
Overall, the results of this study emphasized that employee performance
improvement did not rely solely on external stimuli, but also on how such stimuli
were internalized into positive attitudes through job satisfaction. Leadership style
and work environment were proven to enhance performance directly, while
organizational culture only affected performance indirectly through job satisfaction
as a psychological mechanism. Therefore, organizations needed to balance
structural factors (culture, reward systems, promotion opportunities) with relational
factors (visionary leadership, supportive work environment) to foster sustainable
job satisfaction and ultimately achieve optimal performance.
Tidak tersedia versi lain