{"id":97857,"date":"2026-05-11T12:02:44","date_gmt":"2026-05-11T05:02:44","guid":{"rendered":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/?p=97857"},"modified":"2026-05-21T14:20:09","modified_gmt":"2026-05-21T07:20:09","slug":"sinergi-ei-lab-fia-ub-komdigi-dan-takalab-dalam-memperkuat-fondasi-start-up","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/blog\/fakultas\/sinergi-ei-lab-fia-ub-komdigi-dan-takalab-dalam-memperkuat-fondasi-start-up\/","title":{"rendered":"Sinergi EI Lab FIA UB, Komdigi dan Takalab dalam Memperkuat Fondasi Start Up"},"content":{"rendered":"<p><strong>MALANG (11\/5) &#8212; <\/strong>Laboratorium Kewirausahaan dan Inovasi (EI Lab) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya berkolaborasi dengan Takalab sukses menyelenggarakan seminar bertajuk &#8220;Growing Malang&#8217;s Business Ecosystem&#8221; pada Senin (11\/05). Bertempat di Aula Gedung A lantai 4, forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi mahasiswa dan praktisi untuk membedah tantangan serta potensi besar pengembangan startup di wilayah Malang Raya. Acara ini secara resmi dibuka dengan visi untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan melalui sinergi lintas sektor antara akademisi, industri, dan pemerintah.<\/p>\n<p>Dalam sesi pembukaan, Bayu Sujatwoko perwakilan dari Komdigi memperkenalkan inisiatif Garuda Spark Innovation Hub yang difokuskan pada pembentukan ekosistem ekonomi digital yang tangguh. Beliau menekankan bahwa kemandirian seorang pendiri startup harus didasari oleh bekal fundamental yang kuat. Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Laboratorium EI Lab, Ari Irawan, menyampaikan ambisi besarnya terhadap peran laboratorium dalam mendukung ekonomi lokal. Ia menyatakan,<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Harapan kami, laboratorium ini bisa menjadi sumber pendapatan baik secara internal maupun eksternal melalui layanan konsultasi bagi UMKM maupun startup yang sedang berkembang,&#8221; tuturnya.<\/p><\/blockquote>\n<figure id=\"attachment_97901\" aria-describedby=\"caption-attachment-97901\" style=\"width: 2550px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-97901 size-full\" src=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-scaled.jpg\" alt=\"\" width=\"2560\" height=\"1707\" srcset=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-scaled.jpg 2560w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-300x200.jpg 300w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-768x512.jpg 768w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/fia.ub.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/IMG_1905-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-97901\" class=\"wp-caption-text\">kiri ke kanan : Host, Adinda Ragilia, Ayrton Eduardo, Ziaelfikar Albaba<\/figcaption><\/figure>\n<p>Memasuki sesi diskusi panel, Aryton Eduardo selaku Founder &amp; Business Director Crevolutionz, memberikan analisis mengenai karakteristik unik pengusaha di Malang yang ia sebut memiliki &#8220;spirit organik&#8221;. Aryton menjelaskan bahwa komunitas di Malang memiliki kekompakan yang jarang ditemukan di kota lain, namun tetap memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal standar kualitas.<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Komunitas kita di sini sangat kuat dan memiliki semangat yang sama, sebuah spirit organik yang tidak semua kota punya. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita menyediakan layanan atau produk dari Malang yang standar kualitasnya mampu menembus dan diakses oleh pasar global,&#8221; tegas Aryton.<\/p><\/blockquote>\n<p>Perspektif kritis mengenai dinamika pasar lokal disampaikan oleh Ziaelfikar Albaba, CEO Nortis AI Academy. Ia menyoroti perbedaan antara komunitas yang sekadar berbagi dengan komunitas yang berorientasi pada pertumbuhan bisnis. Ziaelfikar mencatat bahwa keterbatasan pasar B2B di Malang memaksa para pelaku usaha untuk berpikir lebih rasional jika ingin berkembang.<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Tantangannya adalah ekosistem di sini masih sangat dominan di sektor B2C, sementara jualan di sektor B2B sangat sulit. Oleh karena itu, pelaku startup di Malang harus memiliki perwakilan di luar, seperti Jakarta, karena pertumbuhan mindset bisnis konvensional harus mulai beralih ke arah yang lebih rasional untuk scale up,&#8221; jelasnya.<\/p><\/blockquote>\n<p>Melengkapi perspektif tersebut, Adinda Ragilia sebagai Partnership Lead dari Komdigi, menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam memetakan talenta potensial di daerah. Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya menjadi pengawas, tetapi harus aktif turun ke lapangan.<\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Pemerintah juga harus ikut andil untuk turun langsung ke UMKM guna mencari talenta-talenta potensial daerah. Tantangannya adalah mengkoneksikan akses dan menciptakan contoh keberhasilan yang dapat dijadikan role model bagi startup lainnya di Malang,&#8221; ungkap Adinda.<\/p><\/blockquote>\n<p>Transformasi paradigma yang dihasilkan dari forum ini memberikan manfaat nyata bagi audiens dalam memahami pemetaan strategi bisnis yang lebih matang. Kesadaran akan pentingnya validasi pasar secara rasional dan pemanfaatan Malang sebagai laboratorium uji coba (testing ground) yang efisien menjadi modal utama sebelum melakukan ekspansi nasional.<\/p>\n<p>Audiens memperoleh wawasan kritis bahwa menjaga identitas lokal harus berjalan beriringan dengan standarisasi produk yang kompetitif di kancah internasional. Kehadiran kolaborasi antara birokrasi dan akademisi ini sekaligus memberikan jaminan aksesibilitas terhadap jejaring inkubasi yang selama ini sulit dijangkau oleh pengusaha muda secara mandiri.<\/p>\n<p>Seluruh wawasan strategis ini secara substantif selaras dengan agenda pembangunan global, di mana penguatan kewirausahaan yang rasional berkontribusi langsung pada pencapaian <strong>SDG 8<\/strong> terkait pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan penyediaan lapangan kerja layak.<\/p>\n<p>Digitalisasi dan pengembangan startup berbasis teknologi yang dibahas turut memperkuat <strong>SDG 9<\/strong> dalam membangun infrastruktur industri yang inovatif dan tangguh. Pada akhirnya, sinergi nyata antara universitas, pemerintah, dan praktisi industri ini menjadi manifestasi dari <strong>SDG 17<\/strong> mengenai kemitraan global, yang memperkuat fondasi ekonomi digital nasional dimulai dari titik-titik potensial di daerah seperti Malang.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MALANG (11\/5) &#8212; Laboratorium Kewirausahaan dan Inovasi (EI Lab) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya berkolaborasi dengan Takalab sukses menyelenggarakan seminar bertajuk &#8220;Growing Malang&#8217;s Business Ecosystem&#8221; pada Senin (11\/05). Bertempat di Aula Gedung A lantai 4, forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi mahasiswa dan praktisi untuk membedah tantangan serta potensi besar pengembangan startup di wilayah &#8230; <a title=\"Sinergi EI Lab FIA UB, Komdigi dan Takalab dalam Memperkuat Fondasi Start Up\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/blog\/fakultas\/sinergi-ei-lab-fia-ub-komdigi-dan-takalab-dalam-memperkuat-fondasi-start-up\/\" aria-label=\"Read more about Sinergi EI Lab FIA UB, Komdigi dan Takalab dalam Memperkuat Fondasi Start Up\">Read more<\/a><\/p>","protected":false},"author":298,"featured_media":97900,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[84,102],"tags":[263,944,754,760,753,945],"coauthors":[823],"class_list":["post-97857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fakultas","category-kewirausahaan-dan-inovasi","tag-berita","tag-ei-lab","tag-sdgs17","tag-sdgs8","tag-sdgs9","tag-strategi-bisnis-startup"],"cp_meta_data":{"_edit_lock":["1779444986:298"],"_edit_last":["298"],"_wp_page_template":["default"],"_eael_post_view_count":["34"],"ekit_post_views_count":["18"],"_thumbnail_id":["97900"],"_wp_old_date":["2026-05-21"],"_elementor_page_assets":["a:0:{}"]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/298"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97857"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":97903,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97857\/revisions\/97903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97900"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97857"},{"taxonomy":"author","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ub.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/coauthors?post=97857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}