Prof Noor A Siddique (Flinders University): Menulis Itu Harus Siap Dikritik dan Ditolak

17/02/2017 aulialuqmanaziz Berita

Penelitian dan publikasi hasil penelitian adalah inti dari pekerjaan seorang dosen. Tanpa keduanya, seseorang belum dapat disebut sepenuhnya sebagai dosen. Selain sebagai sarana eksistensi diri seorang dosen, penelitian dan publikasi juga bermanfaat untuk meningkatkan peringkat universitas di antara universitas lain di dunia. 

Itulah sepenggal wawasan yang dibagikan oleh Prof Noor A Siddiquee (Flinders University, Australia) sore tadi di Ruang Seminar Gedung B Lantai 2 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB), Rabu (17/2). Kedatangan Noor ke FIA UB adalah dalam rangka menjalin kerjasama di antara kedua institusi di bidang pendidikan dan penelitian. Noor sendiri saat ini menjabat sebagai Associate Dean di School of Social and Policy Issues, Flinders University. Kedatangan Noor dimanfaatkan pula oleh para dosen FIA UB untuk bertukar pikiran seputar prospek pendidikan dan penelitian di Australia dalam kegiatan yang bertajuk “Building Institutional Collaboration“. 

Prof Noor A Siddiquee (duduk, dua dari kiri) berfoto bersama pimpinan FIA UB dan para dosen

Kepada para dosen, Noor menjelaskan bahwa proses publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional adalah proses yang sulit. Lebih-lebih jika yang dituju adalah jurnal internasional dengan tingkat impact factor (faktor dampak) yang tinggi. Meski demikian, Noor menyampaikan bahwa hal itu bisa dilakukan, asalkan dengan penuh dedikasi. “Proses publikasi artikel di jurnal internasional semakin lama semakin sulit, karena makin banyak orang yang mengirimkan artikelnya ke jurnal. Sedangkan reviewer jumlahnya tidak sebanding,” urai pria kelahiran Pakistan ini. 

Noor juga menceritakan bahwa dirinya juga pernah beberapa kali mengalami penolakan. Namun, penolakan tersebut bukan karena kualitas artikel yang ditulisnya, melainkan karena ketidakcocokan topik artikel dengan tujuan dan pembaca jurnal yang ia tuju. “Saya pernah menulis tentang pajak di negara berkembang. Lalu saya kirim ke jurnal internasional di Amerika Serikat. Ternyata ditolak karena basis pembaca mereka orang Amerika Serikat saja,” ujar pakar kebijakan publik ini. 

Selain itu, Noor juga berbagi tentang langkah menempuh studi di Australia. Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan kandidat mahasiswa memiliki nilai IELTS yang memadai, khususnya untuk kecakapan Speaking dan Writing. Kemudian, kandidat harus menemukan supervisor di kampus tujuan yang mau menjadi pembimbing untuk proposal penelitian yang diajukan oleh kandidat. “Jangan tulis proposal yang panjang. Cukup 2 sampai 3 lembar. Tapi pastikan ada tujuan untuk menemukan sesuatu yang baru,” tegasnya. 

 

Tim Liputan:

Artikel/Foto: Aulia Luqman Aziz